Wednesday, June 17, 2020

MAKALAH : PERBANDINGAN PEMIKIRAN PARA TOKOH PENDIDIKAN ISLAM (Kurikulum, Metode, Konsep Guru dan Mengajar)

STUDI BANDING PEMIKIRAN PARA TOKOH PENDIDIKAN ISLAM

 

]Pertumbuhan dan perkembangan Pendidikan Islam  sebagai sebuah disiplin ilmu dapat dikatakan terlambat. Itu sebabnya hingga saat ini umat islam masih belum banyak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang pendidikan islam. Dari keadaan ini, dapat diduga mengapa citra dan mutu Pendidikan Islam pada umumnya masih kurang baik dibandingkan citra dan mutu pendidikan pada umumnya. Memahami keadaan kurangnya pertumbuhan dan berkembangan Ilmu Pengetahuan Islam itu nampaknya tidak terjadi di masa sekarang, tetapi juga dimasa yang lalu. Sejak dimasa klasik hingga masa modern (sekarang), belum banyak pakar ulama’ islam yang meneliti masalah Pendidikan Islam.

Kondisi yang demikian itu, tampaknya perlu segera diatasi dengan cara menumbuhkan dan mengembangkan Ilmu pendidikan Islam melalui serangkaian kajian dan penelitian sebagaimana yang dilakukan penulis dalam makalah ini. Pembahasan dalam makalah ini, penulis akan membandingkan para tokoh yang mempunyai pemikiran tentang pendidikan menurut konsep masing-masing. Antara lain, Ibn Sina dikenal sebagai tokoh klasik yang mempunyai pemikiran tentang pendidikan. Kemudian Az-Zarnuzi dikenal sebagai tokoh yang hidup di abad pertengahan, yang juga mempunyai konsep masalah pendidikan. Sedangkan di abad modern penulis memilih KH. Imam Zarkasyi, salah satu tokoh abad modern yang juga mempunyai konsep pendidikan.

Melalui analisis dan kajian sederhana, penulis dalam makalah ini akan menyajikan pemikiran-pemikiran ketiga tokoh tokoh tersebut di zamanya masing-masing. Kemudian penulis akan menkomporatifkan atau membandingkan pemikiran pendidikan ketiga tokoh tersebut. Sebagai sumbangsih, dimana umat islam saat ini sedang mencari model pendidikan yang unggul dan terpadu sebagai upaya menjawab persoalan-persoalan agama dan kebutuhan masyarakat, agaknya pemikiran para tokoh pendidikan yang dikaji dalam makalah ini patut dijadikan bahan perbandingan.

1.      Riwayat dan Konsep Pendidikan Menurut Ibn Sina

Nama lengkapnya adalah Abu ’Ali al-Husyn ibn Abdullah. Penyebutan nama ini telah menimbulkan pebedaan pendapat di kalangan para ahli sejarah. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa nama tersesut diambil dari bahasa latin, Avin Sina, dan sebagian yang lain mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari kata Al-Shin yang dalam bahasa Arab berarti Cina. Selain itu ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nama tersebut dihubungkan dengan nama tempat kelahirannya, yaitu Afshana. Dalam sejarah pemikiran islam, Ibnu Sina di kenal sebagai intelektual muslim yang banyak mendapat gelar. Ia lahir pada tahun 370 H (980 M). Sejarah mencatat, bahwa Ibnu Sina melalui pendidikannya pada usia lima tahun di kota kelahirannya Bukhara. Pengetahuan yang pertama kali ia pelajari ialah membaca al-qur’an. Setelah itu ia melanjutkan dengan mempelajari ilmu-ilmu agama islam seperti tafsir, fiqh, ushuluddin dan lain-lain. Berkat ketekunan dan kecakan, akhirnya ia melahirkan konsep pendidikan, antara lain adalah:

a.      Tujuan Pendidikan

Menurut Ibnu Sina, bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Dan diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup dimasyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecendrungan dan potensi yang dilmilikinya. Ibnu Sina berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan (sa’adat).

Selain itu tujuan pendidikan yang dikemukakan Ibnu Sina tersebut tampak didasarkan pada pandangannya tentang Insan Kamil  (manusia yang sempurna), yaitu manusia yang terbina seluruh potensi diinya secara seimbang dan menyeluruh. Selain harus mengenbangkan potensi dan bakat dirinya secara optimal dan menyeluruh, juga harus mampu menolong manusia agar eksis dalam melaksanakan fungsinya sebagai khalifah  di masyarakat.

b.      Kurikulum

Kurikulim disini berfungsi sebagai alat mempertemukan kedua pihak sehingga anak didik dapat mewujudkan bakatnya secara optimal dean belajar menyumbangkan jasanya untuk meningkatkan mutu kehidupan dalam masyarakatnya. Konsep Ibnu Sina tentang kurikulum  didasarkan pada tingkat perkembangan usia anak didik. Untuk usia anak 3 sampai 5 tahun misalnya, menurut Ibnu Sina perlu diberikan mata pelajaran olahraga, budi pekerti, kebersihan, seni suara, dan kesenian.

Selanjutnya kurikulum untuk usia 6 sampai 14 tahun menurut Ibnu Sina adalah mencakup pelajaran membaca dan menghafal al-qur’an, pelajaran agama, pelajaran sya’ir dan pelajaran olah raga. Selanjutnya kurikiulum untuk usia 14 tahun ke atas menurut Ibnu Sina mata pelajaran yang diberikan amat banyak jumlahnya, namun pelajaran tersebut perlu dipilih sesuai dengan bakat dan minat si anak.

c.       Metode Pengajaran

Konsep metode yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain terlihat pada setiap materi pelajaran. Dalam setiap pembahasan materi pelajaran Ibnu Sina selalu membicarakan tentang cara mengajarkan kepada anak didik. Berdasarkan pertimbangan psikologinya, Ibnu Sina berpendapat bahwa suatu materi pelajaran tertentu tidak akan dapat dijelaskan kepada bermacam-macam anak didik dengan satu cara saja, melainkan harus dicapai dengan berbagai cara sesuai dengan perkembangan psikologisnya. Dan penyampaian materi pelajaran pada anak menurutnya harus disesuaikan dengan sifat dari materi pelajaran tersebut, sehingga antara metode dengan materi yang diajarkan tidak akan kehilangan daya relevansinya. Metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain metode talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi magang, dan penugasan.

d.      Konsep Guru.

Konsep guru yang idtawarkan Ibnu Sina antara lain berkisar tentang guru yang baik. Dalam hubungan ini Ibnu Sina mengatakan bahwa guru yang baik adalah berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akh;ak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main dihadapan muridnya, tidak bermuka masam, sopan santun, dan suci murni. Lebih lanjut Ibnu Sina menambahkan bahwa seorang guru itu sebaiknya darikaum pria yang terhormat dan menonjol budi pekertinya, cerdas, teliti, sabar, telaten dalam membingbing anak-anak, adil, hemat dalam penggunaan waktu, gemar bergaul dengan anak-anak dll.

e.       Konsep Hukuman dalam Pengajaran

Ibnu Sina pada dasarnya tidak berkenan menggunakan hukuman dalam kegiatan pengajaran. Hal ini didasarkan pada sikapnya yang sangat menghargai martabat manusia. Namun dalam keadaan terpaksa hukumanm dapat dilakukan dengan cara yang amat hati-hati. Ibnu Sina menyadari sepenuhnya, bahwa manusia memiliki naluri yang selalu ingin disayang, tidak suka diperlakukan kasar dan lebih suka diperlakukan halus. Atas dasar pandangan kemanusiaan inilah maka Ibnu Sina sangat membatasi pelaksanaan hukuman.

Ibnu Sina membolehkan pelaksanaan hukuman dengan cara yang ekstra hati-hati, dan hal itu hanya boleh dilakukan dalam keadaan terpaksa atau tidak normal. Sedangkan dalam keadaan normal, hukuman tidak boleh dilakukan. Sikap humanistic ini sangat sejalan dengan alam demokrasi yang menuntut keadilan, kemanusiaan, kesederajatan, dan sebagainya.

 

2.      Riwayat dan Konsep Pendidikan Az-Zarnuzi

Sayikh Az-Zarnuji hidup di abad ke 6 H / 13 M, di daerah di kota Zarnuji dekat kota Khounjanda diwilayah Irak pada masa itu tetapi sekarang masuk wilayah Afganistan. Adapun konsep pendidikan Az-Zarnuji lebih negarah pada etika pembelajaran  Tetapi sebelum menjelaskan satu persatu dari tata urut, norma-norma dan etika pembelajaran diatas akan dijelaskan secara singkat tentang biografi Syaikh Az-Zarnuji.
Kata Saikh adalah panggilan kehormatan untuk pengarang kitab ini. Sedangkan Az-Zarnuji adalah nama marga yang diambil dari nama kota tempat beliau berada, yaitu kota Zarnuj. Diantara dua kata itu ada yang menulis gelar Burhanuddin (bukti kebenaran agama), sehingga menjadi Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji..
Karakteristik Etika Pembelajaran 
Secara jelas di dalam kitab Ta’lim Muta’alim-nya Syaikh Az-Zarnuzi tidak tertera tentang karakteristik etika pembelajaran, tetapi ada beberapa hal yang menjadi catatan dan menarik perhatian, yaitu bahwa Az-Zarnuji memberikan rambu-rambu bagi para penuntut ilmu yaitu:
1.Niatkan mencari ilmu dengan tulus dan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.
2.Dalam memilih ilmu yang akan dipelajari (jurusan) disesuaikan dengan dirinya (minat dan bakatnya), serta memilih guru harus orang yang alim (banyak ilmu / mumpuni), bersifat wara’ dan lebih tua.
3.Dalam bergaul carilah teman yang tekun belajar, bersifat wara’, bertawakal dan yang istiqamah.
Ketiga hal diatas dapat dikatakan sebagai karakteristik pembelajaran menurut Az-Zarnuji.

1. Niat
Menurut Syaikh Az-Zarnuji penuntut ilmu wajib niat sewaktu belajar, sebab niat itu merupakan pokok-pokok dalam segala perbuatan. Sebaiknya bagi penuntut ilmu dalam belajarnya berniat mencari Ridlo Allah, kebaikan akhirat, membasmi kebodohan diri sendiri dan sekalian orang-orang bodoh. Mengembangkan agama dan mengabdikan Islam, sebab keabadian Islam itu harus diwujudkan dengan ilmu, sedangkan berbuat zuhud dan takwa itu tidak jika tanpa ilmu. Dalam menuntut ilmu hendaknya diniatkan juga untuk mensyukuri atas kenikmatan akal dan kesalehan badan; hendaklah jangan berniat mencari popularitas, tidak untuk mencari harta dunia, juga tidak untuk mencari kehormatan di mata penguasa dan semacamnya.
Jadi menurutnya dasar dari menuntut ilmu adalah sebuah niat yang Ikhlas semata-mata karena Allah Swt, untuk kemaslahatan umat, Kemashlahatan Agama Dan kemashlahatan bangsa, karena niat demikian adalah bagian dari sikap zuhud dan takwa. Tanpa didasari niat yang tulus dan ikhlas didalam pembelajaran maka tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. 
Niat yang tulus dan ikhlas dalam pembelajaran merupakan pilar utama yang mendukung terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif yang akan berpengaruh pada kualitas dan intensitas serta harmonisasi dalam kegiatan belajar mengajar. Dan niat ini pula yang menjadi pijakan bagi siswa maupun guru dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya masing. Sehingga tidak akan terjadi dikotomi pembelajaran yang dilakukan oleh guru, murid maupun pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran itu sendiri.

2. Memilih jurusan 
Dalam memilih ilmu (mentukan pilihan bidang Studi / jurusan) para santri harus memilih ilmu/bidang studi yang paling baik atau paling cocok dengan dirinya. Suatu bidang ilmu yang dikaji akan sangat menarik dan menantang bagi mereka yang menyenanginya dan yang merasa cocok dengan bidang ilmu itu, sehingga motivasi berprestasi dari santri/siswa akan mendorongnya untuk tekun belajar, keseriusan dalam mengerjakan tugas-tugas, serta kedisiplinan yang tinggi dalam mengikuti seluruh proses belajar yang mengajar, bahkan proses itu tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah/kampus ataupun pondok saja. Proses itu akan menjadi sumber kekuatan dimanapun dan kapanpun, sehingga dalam konteks ini proses belajar mengajar tidak lagi mengenal tempat dan waktu, karena setiap saat dimana saja para santri/siswa dapat terjadi proses belajar mengajar. 
Adapun cara memilih guru/kiai carilah yang alim, yang bersifat wara’ dan yang lebih tua. Seorang guru yang baik dan menyadari profesinya sebagai guru, maka alim/cerdas adalah syarat mutlak bagi guru. Di samping itu juga keteladanan dan sifat wara’ seorang gurupun tidak kalah pentingnya. Sebab keteladanan merupakan pengalaman belajar yang paling mudah dan paling gampang diingat oleh santri/siswa. Olehnya paling tidaknya, sedikitnya seorang guru memiliki sifat keteladanan yang baik yang berakhlakul karimah dan bersifat wara’ (teliti dan hati dalam segala hal).
Para santri tidak akan memperoleh ilmu dan tidak ilmu tidak bermanfaat, tanpa mau menghormati ilmu dan gurunya. Bagian dari menghormati guru diantaranya adalah tidak berjalan di depannya, tidak duduk ditempatnya, jika dihadapannya tidak memulai bicara kecuali mendapat ijinnya, tidak bertanya sesuatu bila guru sedang bosan / capek, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan guru murka, mematuhi perintah asal tidak bertentangan dengan agama, tidak boleh menyakiti hati gurunya. 
Kaitanya dengan hal diatas dapat diartikulasikan sebagai bentuk penegasan tentang etika murid terhadap guru dan bidang studi yang dipelajarnya. Karena dengan pola aturan diatas akan terjadi harmonisasi antara santri/murid dengan guru/sang kyai, antara santri/murid dengan bidang ilmu yang dipelajarinya.
Bagian dari menghormati ilmu diantaranya adalah; tidak memegang kitab kecuali dalam keadaan suci. Karena ilmu adalah cahaya dan wudhu pun cahaya, sedangakan cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudhu. Dilarang meletakkan kitab didekat kakinya, tidak meletakan sesuatu di atas kitab, santri harus bagus dalam menulis, tulisannya harus jelas. Termasuk menghormati teman dan orang yang mengajar bagian dari menghormati ilmu.

3. Bergaul dengan teman sebaya
Seorang santri harus memilih teman dengan orang yang tekun belajar, bersifat wara’ dan bertawakal istiqamah. Dan orang yang suka memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist-hadist Nabi.
Para santri harus bersungguh-sungguh dalam belajar,harus tekun, santri tidak boleh banyak tidur malam hari. Para santri harus menggunakan waktu malam untuk belajar dan beribadah, supaya memperoleh kedudukan tinggi di sisi-Nya. Jangan banyak makan agar tidak ngantuk. Santri harus mengulang-ulang pelajarannya pada waktu malam dan akhir malam, yaitu antara Isya dan sahur, karena saat-saat itu diberkahi. Para pelajar harus memanfaatkan waktu mudanya untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Mencari ilmu harus sabar pelan tapi pasti dan kontinyu, santri harus bercita-cita tinggi dan harus bersungguh-sungguh.
Para santri harus sering mendiskusikan suatu pendapat/masalah dengan teman-temannya. Diskusi tersebut harus dilakukan dengan tenang, tertib, tidak gaduh, tidak emosi karena itu semua adalah pilar di dalam berdiksusi, sehingga tujuan dari diskusi dapat tercapai. Belajar dengan cara diskusi dan dialog lebih efektif dari pada belajar sendiri. Para penuntut ilmu harus mengurangi hubungi duniawi sesuai dengan kemampuannya. Para penuntut ilmu seharusnya tidak menyibukan diri kecuali hanya menuntut ilmu.
Menuntut ilmu itu mulai dari ayunan (masih kanak-kanak) sampai ke liang kubur (mati). Masa muda harus digunakan untuk menuntut ilmu sebaik-baiknya. Adapun waktu belajar yang paling baik ialah menjelang waktu subuh dan antara waktu magrib dan isya. Orang berilmu harus menyayangi sesama , senang kalau orang lain mendapat kebaikan, tidak iri hati (hasad). Santri harus sibuk melakukan kebaikan dan menghindari permusuhan. Jangan berprasangka buruk terhadap orang mukmin, karena hal itu sumber permusuhan, dan tidak halal.
Para santri harus menambah ilmu setiap hari agar dapat kemuliaan, harus selalu membawa buku dan pena untuk menulis ilmu yang bermanfaat yang ia dengar setiap saat. Setiap santri juga harus bersikap wara’ (menjaga diri dari hal-hal yang tidak jelas halal-haramnya). Adapula hala-hal yang perlu diperhatikan oleh santri yaitu hal-hal apa saja yang dapat menguatkan hafalan ialah tekun/rajin belajar, katif mengurangi makanan, salat malam, dan membaca Al-Qur’an. Makan kundar (kemeyan) dicampur madu, dan makan dua puluh satu anggur merah setiap hari tanpa air, dapat menguatkan hapalan dan dapat menyembuhkan macam-macam penyakit. Dan apa saja yang dapat mengurangi dahak, bisa mnehuatkan hafalan, dan apa saja yang menambah dahak itu menyebabkan lemahnya hafalan. Adapun yang merusak hafalan adalah banyak berbuat maksiat, banyak dosa, banyak susah, prihatin memikirkan urusan harta, dan terlalu banyak kerja. Mengerjakan shalat dengan khusyu’ dan menyibukan diri untuk mencari ilmu dapat menghilangkan penderitaan dan kesusahan. Hal-hal yang menyebabkan cepat lupa ialah makan ketumbar basah, makan apel yang asam, melihat orang yang dipancung, membaca tulisan dikuburan, melewati barisan unta, membuang ketombe hidup ditanah dan melukai di bagian tengkuk kepala untuk menghilangkan rasa pusing-pusing.
Para santri pun dianjurkan untuk menghindari dusta, menghindari tidur pagi karena dapat menyebabkan miskin harta dan miskin ilmu. Ilmu dikumpulkan dengan meninggalkan tidur, di larang tidur dengan telanjang, kencing dengan telanjang, makan dalam keadaan junub dan lain-lain sampai menyepelekan shalat itu semua dapat menjauhkan rejeki dan mendekatkan kepada kefakiran.

C. Pentingnya Etika Pembelajaran dalam Pendidikan Islam
Pendukung utama tercapainya sasaran pembangunan manusia Indonesia yang bermutu adalah pendidikan yang bermutu. Proses pendidikan yang bermutu tidak hanya cukup dilakukan melalui tranformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga harus didukung oleh peningkatan profesionalisme dan sistem manajemen tenaga pendidik serta pengembangan kemampuan peserta didik.
Kemampuan ini tidak hanya menyangkut aspek akademis, tetapi menyangkut aspek perkembangan pribadi, sosial, kematangan intelektuaktual dan sistem nilai peserta didik. Di wilayah inilah etika pembelajaran berperan.
Dunia pendidikan Islam sudah sepatutnya memperhatikan wilayah garapan etika pembelajaran dan menerapkannya dalam proses berlangsungnya transper ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga akan melahirkan karakterisitik peserta didik yang memiliki kematangan mental, Intelektual dan spritual yang harus menjadi ciri khas dari model pendidikan Islam. 
Sejalan dengan harapan diatas Pendidikan Islam di Indonesia mau tak mau, siap tak siap, harus menerapkan etika pembelajaran yang sesuai dengan ajaran Islam dan tidak ketinggalan jaman dengan kemajuan teknologi, sehingga menghasilkan outcome yang berkualitas. Yang siap bersaing dengan siapun dan dengan model apapun

3.      Riwayat dan Konsep Pendidikan Menurut KH. Imam Zarkasyi

Imam Zarkasyi lahir di Gontor, Jawa Timur pada tanggal 21 Maret 1910 M. dan meninggal dunia pada tanggal 30 Maret 1985. Ia meninggalkan seorang istri dan 11 orang anak. Belum genap 16 tahun, Imam Zarkasyi mula-mula menimba ilmu di beberapa pesantren yang ada di daerah kelahirannya, seperti pesantren Josari, Joresan, dan Tegalsari. Setelah belajar di sekolah Ongkoloro, ia melanjutkan studinya di pondok pesantren Jamsarem, Solo. Pada waktu yang sama ia juga belajar di sekolah Mambaul Ulum. Kemudian masih di kota yang sama ia melanjutkan pendidikannya di sekolah Arabiyah Adabiyah yang dipimpin oleh KH. Al-Hasyimi—sastrawan Tunisia yang diasingkan oleh Pemerintah Perancis di wilayah penjajahan Belanda dan akhirnta menetap di Solo, sampai tahun1930.

Setelah menyelesaikan pendidikannnya di Solo, Imam Zarkasyi meneruskan studinya ke Kweekschool di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sampai tahun 1935. Setelah tamat, ia diminta menjadi direktur perguruan tersebut oleh gurunya Mahmud Yunus. Tetapi Imam Zarkasyi hanya memenuhinya selama satu tahun, karena Gontor lebih membutuhannya—apalagi kakaknya, Ahmad Sahal tidak mengizinkannya berada di luar lingkungan pendidikan Gontor.

Pada tahun 1936, genap setelah sepuluh tahun dinyatakannya Gontor sebagai lembaga pendidikan dengan gaya baru, Imam Zarkasyi seera memperkenalkan program pendidikan yan diberi nama Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) dan ia sendiri bertindak sebagai direkturnya. Pada tahun 1943 ia diminta menjadi Kepala Kantor Agama Karesidenan Madiun. Jabatan lainnya sebagai kepala seksi pendidikan kementerian agama dan anggota komite penelitian pendidikan pada tahun 1946. Selama 8 tahun (1948-1955) ia dipercaya sebagai ketua Pengurus Besar Guru Islam Indonesia (PGII) yang sekretarisnya waktu itu dipegang oleh KH. EZ. Muttaqin dan banyak lagi jabatan lain yang pernah disandangnya.

Ia juga produktif membuat karya tulis. Di antara karyanya adalah Senjata Penganjur dan Pemimpin Islam, Pedoman Pendidikan Modern, Kursus Agama Islam, Ushuluddin, Pelajaran Fiqh I dan II berikut kamusnya dan buku-buku pelajaran lainnya.

Gagasan dan Cita-Cita Pembaharuan Imam Zarkasyi

Sebelum mendirikan lembaga pendidikan Gontor dengan corak modern, ia melakukan studi banding ke empat lembaga pendidikan; Pertama, Universitas al-Azhar, Mesir, kedua, Podok Syanggit di Afrika Utara, ketiga, Universitas Muslim Aligarch di India dan keempat, Perguruan Shantiniketannya Rabendranath Tagore, India.

Untuk membangun pondok yang santrinya dapat menguasai bahasa Arab dan Inggris, ia merumuskan jiwa ponpesnya dengan Panca Jiwa Pondok. Kelima jiwa itu adalah keikhlasan, kesederhanaan, kesanggupan menlong diri sendiri (self help), ukhuwah Islamiyah dan jiwa bebas.

Konsep Pendidikan KH. Imam Zarkasyi

Pembaharuan Metode dan Sistem Pendidikan Sistem pendidikan di Gontor dilakukan secara klasikal yang terpimpin secara terorganisir dalam bentuk penjenjangan kelas dalam jangka waktu yang ditetapkan. Ia juga memperkenalkan kegiatan ekstrakurikuler seperti olah raga, kesenian, keterampilan, pidato dalam tiga bahasa (Indonesia, Arab dan Inggris), pramka, dan organisasi pelajar. Santri diharuskan tetap inggal di pondok pesantren (boarding school). Sistem pembelajaran asrama tetap diterapkan (day school system) dengan jadwal pembelajaran yang sangat ketat. Kajian kitab tetap diterapkan, misalnya Fathul Qarib, Fathul Mu’in, I’anatut Thalibin dan sebagainya.

2. Pembaharuan Kurikulum
Kurikulum yang diterapkan Imam Zarkasyi adalah 100 % umum dan 100 % agama. Di samping pelajaran tafsir, hadits, fiqh, ushul fiqh yang biasa dijarakan di pesantren. Ia juga menambahkan pelajaran umum, seperti ilmu alam, ilmu hayat, ilmu pasti, sejarah, tata negara, ilmu bumi, ilmu pendidikan, ilmu jiwadan lain-lain. Khusus pelajaran bahasa Arab ini ditempuh dengan metode langsung (direct method) secara aktif dengan memperbanyak latihan (drill), baik lisan maupun tulisan.

3. Perbaikan Struktur dan Manajemen Pesantren
Berbeda dengan pondok pesantren tradisional, Ponpes Gontor telah mewakafkannya pada sebuah lembaga yang disebut Badan Wakaf Pondok Modern Gontor. Dengan demikian aka ponpes ini menjadi milik semua ummat Islam dan semuanya ikut bertanggung jawab atasnya


4. Pembaharuan dalam Pola Pikir Santri dan Kebebasan Pesantren
Gagasan independen Imam Zarkasyi direalisasikan dengan menciptakan Pondok Modern Gontor benar-benar steril dari kepentingan politik dan golongan apapun. Hal ini diperkuat dengan semboyan Gontor di atas dan untuk semua golongan. Selanjtnya kemandirian pondok ini juga terlihat dari adanya kebebasan para santrinya untuk menentukan jalan hidupnya kelak. Imam Zarkasyi sering mengatakan bahwa Gontor tidak mencetak pegawai, tetapi mencetak majikan ntuk dirinya sendiri.





 

 


No comments: