Friday, June 19, 2020

BAB II KAJIAN TEORI SKRIPSI TARBIYAH : STUDI MODEL KERJA SAMA ANTARA GURU DAN ORANG TUA SISWA DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

BAB II

LANDASAN TEORI

 

A.    Kerjasama antara Guru dan Orang Tua Siswa

1.      Pengertian kerjasama antara guru dan orang tua siswa

Untuk memperoleh pengertian kerjasama antara guru dan orang tua siswa, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu makna kerjasama, guru dan orang tua. Kerjasama menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah ”perbuatan bantu-membantu atau yang dilakukan besama-sama”.[1] Sedangkan dalam bidang lain menyebutkan kerjasama pada intinya menunjukkan adanya kesepakatan antara dua orang atau lebih yang saling menguntungkan, sebagaimana dua pengertian kerjasama di bawah ini:

a.       Moh. Jafar Hafsah menyebut kerjasama ini dengan istilah “kemitraan”, yang artinya adalah “suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prisip saling membutuhkan dan saling membesarkan.”

b.      H. Kusnadi mengartikan kerjasama sebagai “dua orang atau lebih untuk melakukan aktivitas bersama yang dilakukan secara terpadu yang diarahkan kepada suatu target atau tujuan tertentu”.[2]

Dari pengertian kerjasama di atas, maka ada beberapa aspek yang
terkandung dalam kerjasama, yaitu dua orang atau lebih, artinya kerjasama akan ada kalau ada minimal dua orang/pihak yang melakukan kesepakatan. Oleh karena itu, sukses tidaknya kerjasama tersebut ditentukan oleh peran dari kedua orang atau kedua pihak yang bekerjasama tersebut.

Dalam proses kerjasama ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya adalah aktivitas yang menunjukkan bahwa kerjasama tersebut terjadi karena adanya aktivitas yang dikehendaki bersama, sebagai alat untuk mencapai tujuan dan ini membutuhkan strategi kemudian tujuan/target, merupakan aspek yang menjadi sasaran dari kerjasama tersebut, juga Jangka waktu yang artinya ada kesepakan kedua pihak kapan kerjasama itu berakhir. Dalam hal ini, tentu saja setelah tujuan atau target yang dikehendaki telah tercapai.

Sedangkan guru dalam arti sempit menurut Hadari Nawawi dalam buku organisasi sekolah dan pengelolaan kelas, yang dimaksud guru adalah ”orang yang kerjanya mengjar atau memberikan pelajaran disekolah/kelas”.[3] Sedangkan dalam arti yang lebih luas guru bermakna ”orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajran yang ikut bertanggungjawab dalam membantu anak-anak untuk mencapai kedewasaan masing-masimng”.[4]

Guru dalam pengertian terakhir bukan sekedar orang yang berdiri di depan kelas yang menyampaiakan materi ilmu pengetahuan tertentu, akan tetapi anggota masyarakat yang harus ikut aktif dan berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang dewasa. 

Kemudian orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu.[5] Orang tua merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga dan juga memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya. Untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat.

Sedangkan menurut Fuad Ihsan, orang tua adalah ayah dan ibu yang masing-masing mempunyai tanggung jawab yang sama dalam pendidikan anak.[6] Orang tua juga merupakan orang yang lebih tua atau orang yang dituakan. Namun umumnya di masyarakat pengertian orang tua itu adalah orang yang telah melahirkan kita yaitu Ibu dan Bapak. Ibu dan bapak selain telah melahirkan kita ke dunia ini, ibu dan bapak juga yang mengasuh dan yang telah membimbing anaknya dengan cara memberikan contoh yang baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Maka pengetahuan yang pertama diterima oleh anak adalah dari orang tuanya. Karena orang tua adalah pusat kehidupan rohani anak dan sebagai penyebab berkenalnya dengan alam luar, maka setiap reaksi emosi anak dan pemikirannya dikemudian hari terpengaruh oleh sikapnya terhadap orang tuanya di permulaan hidupnya dahulu. Jadi, orangtua atau ibu dan bapak memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.[7]

Setelah memahami beberapa pengertian mengenai kerjasama, guru dan orang tua. Maka dapat dijelaskan tentang pengertian kerjasama antara guru dan orang tua siswa adalah sebuah upaya atau aktivitas bersama antara pendidik siswa disekolah dengan komponen keluarga yang mempunyai tenggung jawab untuk mendidik anaknya.

Sehingga dengan demikian keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan sangat tergantung dari konsep atau program pendidikan yang dibuat oleh sekolah, disamping tentunya masing-masing pihak telah menyadari sepenuhnya tentang tujuan pendidikan yang akan dicapai. Apabila sekolah dan masyarakat (keluarga), khususnya guru dan orang tua sudah punya komitmen untuk memajukan mutu atau kwalitas pendidikan, maka akan terbuka peluang bagi kita untuk lebih meningkatkan mutu proses pembelajaran, dan memungkinkan menjadikan pendidikan yang berkwalitas.

2.      Cara atau bentuk  kerjasama antara guru dan orang tua siswa

Dalam penelitian ini, penulis menetepkan indikator kerjasama antara guru dan orang tua siswa pada aspek melakukan kunjungan rumah (home visit) karena banyak faedah dan tujuan yang akan diperoleh dari kunjungan guru ke rumah orang tua siswa, baik untuk tujuan proses perkembangan dan kwalitas pembelajaran yang diperoleh siswa.

Kemudian menjalin komunikasi tertulis dengan buku penghubung baik berupa laporan perkembagan anak atau katifitas di sekolah dalam bentuk rapot. Laporan tersebut tidak hanya berupa angka-angka, akan tetapi adajuga yang bersifat informasi dan dianostik. Serta pertemuan rutin dengan wali murid.

Dengan demikian, agar pihak sekolah dapat meningkatkan tujuan pendidikan serta program sekolah ke lingkungan rumah, karena dengan terlibatnya orang tua siswa dalam proses pendidikan dapat  membantu dan mendukung penyelenggaran pendidikan yang berkualias.

Adapun dalam buku pengelolaan lingkungan belajar yang ditulis oelh Rita Mariana dkk. Terdapat cara yang dapat dilakukan untuk mewujudkan sebagai bentuk kerjasama guru (staf) dengan orang tua adalah:

a.       Menjalin komunikasi tertulis dengan buku penghubung

b.      Mengadakan pertemuan dengan orang tua secara berkala.

c.       Mebuat program sekolah yang melibatkan orang tua.

d.      Menggunakan fasilitas teknologi komunikasi (telepon, e-mail, dan internet).

e.       Melakukan kunjungan rumah (home visit).

f.        Observasi orang tua dikelas.

g.      Melibatkan orang tua dalam merencanakan aturan, keputusan dan eveluasi belajar anak.[8]

Untuk menciptakan kerjasama yang saling membari manfaat antara unsur guru dan orang tua, pihak sekolah diharapkan dapat melakukan langkah-langkah yang strategis dan terencana dengan baik agar kerjasama yang dibangun tersebut tidak hany berlaku untuk sesaat, melainkan untuk jangka panjang. Sebalum memulai kerjasama alangkah baiknya pihak sekolah melakukan analisis kebutuhan untuk mencapi tujuan bersama.

Adapun beberapa bentuk kerjasama antara guru dan orang tua siswa menurut Soemiarti Patmonodewo, adalah sebagai berikut:

a.       Mengdakan komunikasi antara guru dan orang tua

Orang tua memiliki hak untuk mengetahui kemajuan pendidikan anaknya. Guru sebaiknya selalu merespons terhadap rasa ingin tahu orang tua terhadap prestasi anaknya. Sebaiknya antara guru dan orang tua manjalin sebauah komunikasi timbal balik. Komunikasi efektif menuntut orang tua maupun guru mengirimkan dan menerima pesan tentang anak.

Chattermole & Robinson, mengemukakan tiga alasan pentingnya komunikasi yang efektif antara guru dan orang tua, yaitu:

1)      Para guru harus mengtahui kebutuhan dan harapan anak dan orang tua yang mengikuti progaram sekolah.

2)      Para orang tua perlu keterangan yang jelas mengenai segala hal yang dilakukan pihak sekolah, baik program, maupunpelaksanaan dan ketentuan yang diberlakukan di sekolah.

3)      Komunikasi yang baik akan membantu terselenggaranya proses pendidikan yang baik.[9]

Teknik kominiasi yang diberlakukan dapat berlansung melalui berbagai bentuk atau cara, dalam rentan komunikasi yang informal sampai dengan yang formal. Malalui cara tersebut akan diperoleh saling pengertian antara kedua belah pihak. Teknik komunikasi akan meningkatkan pandangan dan pengertian antara orang tua dan gurutentang anak didik dan proses belajar mereka.

Dalam teknik kominikasi ini ada 2 macam yaitu, teknik komunikasi yang tidak resmi yang artinya penyampaian keterangn-keterangan tentang apa yang terjadi pada jam sekolah adalah dengan cara yang sangt sederhana. Sedangkan teknik kominikasi yang resmi adalah komunikasi yang bertujuan bahwa apa yang akan disampikan telah direncanakan dan temanya juga khusus.[10]

b.      Kunjungan rumah

Kunjungan rumah adalah salah satu upaya komunikasi dan kerjasam antara guru dan orang  tua. Juga, harus menentukan waktu dalam melakukan kunjungan rumah kemudian batasi waktu dalam berkunjung dan batasi diskusi yang akan dilakukan sesuai dengan yang telah direncanakan. Ketika melakukan kunjungan rumah lakukan pengematan yang cermat tehadapa lingkugan rumah, sehingga akan mendapatkan gamabaran yang jelas tentang siswanya.[11]

c.       Pertemuan dengan orang tua

Pertemuan dengan orang tua biasanya pertama kali dilakukan pada saat orang tua mendaftarkan anaknya kesekolah. Pada pertemuan tersebut biasanya dijelaskan mengenai tujuan dan ketentuan atau peraturan sekolah. Kemudian para guru harus menyadari pokok pertemuan tersebut sebaiknya harus benar-benar dipersiapkan dan direncanakan sehingga pertemuan tersebut bisa menjadi suatu kerjasama yang bermakna antara sekolah dan orang tua termasuk juga dengan guru.[12]

d.      Laporan berkala

Laporan berkala adalah keterangan dari pihka sekolah  yang dikirimkan secara teratur kepada masing-masing oarang tua. Isinya berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada siswa. Sehingga dengan laporan tersebut orang tua memiliki pengalaman tentang apa yang dialami anak mereka. Menurut Harm & Deborah (1987) dalam Spodek (1991) yang dikutip Soemiarti menyebutkan beberapa manfaat laporan barkala adalah sebagai berikut:

1)      Secara berkala para orang tua dapat diberitahu tentang apa yang terjadi dengan anak mereka disekolah.

2)      Memberikan wawasan tentang pendidikan di sekolah.

3)      Menjalin hubungan kerjasama yang  komunikatif antara guru dan orang tua.

4)      Memperkuat dan memperluas hubungan proses belajar disekolah kelingkungan rumkah dan masyarakat.[13]

Bekrjasama antara guru dan orang tua siswa, merupakan salah satu usaha kunci keberhasilan dalam mendidik dan meningkatkan kwalitas pendidikan seoarang anak. Untuk menjalin  kerjasama tersebut guru dan orang tua harus peka terhadap kebutuhan dan usaha yang akan dilakukan untuk mencapaipai pendidikan yang berkwalitas.

Kemudian pendekatan-pendekatan yang harus dilakukan oleh guru dalam bekerjasama dengan orang tua siswa adalah:

a.       Pendekatan yang pertama, guru dapat melatih orang tua apa yang sebenarnya mereka butuhkan untuk pendidikan anaknya. Contoh sederhananya adalah memberikan pelatihan kepada orang tua agar mereka mempunyai keterampilan untuk memonitor perilaku anaknya di rumah atau melatih mereka dalam langkah langkah menerapkan metode pembelajaran untuk anaknya yang bisa dilakukan di rumah.

b.      Kedua, Orang tua sebagai orang yang terlibat dan bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya diminta berpartisipasi aktif untuk mendidik anaknya di sekolah. Pendekatan ini menempatkan orang tua menjadi bagian dari pekerjaan guru. Aplikasi dari pendekatan ini bisa memposisikan orang tua sebagai "helper" untuk anaknya di kelas atau menjadikan mereka sebagai pendamping anaknya pada acara-acara di luar kelas, seperti outbound atau acara rekreasi yang di selenggarakan oleh pihak sekolah.

c.       Kerjasama yang ketiga yang bisa dilakukan guru dengan orang tua adalah "sharing" atau berbagi. Prinsip dari kerjasama ini adalah saya bicara, anda bicara, kita bicara. Guru dan orang tua dapat bertukar pendapat dengan asas egaliter sehingga ada kejujuran antara guru dan orang tua dalam memberikan informasi yang berguna bagi pendidikan anak. Bentuk kerjasama seperti ini yang paling diperlukan adalah keterampilan berkomunikasi antara guru dan orang tua.[14]

Penyelenggaraan kerjasama antara guru dan orang tua dapat berhasil apabila dilaksanakan dengan teratur dan adanya keterbukaan dalam komunikasi. Terkadang orang tua hanya mendengar informasi ketika anaknya mempunyai perilaku buruk atau bermasalah di sekolah.

Selain bentuk kerjasama yang dapat dilakukan seperti telah diungkapkan diatas, ada strategi-strategi lain yang dapat dipertimbangkan untuk dilaksanakan agar kerjasama antara guru dan orang tua dapat selalu terjalin. Di antara strategi yang dapat dilakukan adalah yang pertama guru secara rutin harus selalu membuat laporan perkembangan anak yang dikirimkan ke rumah anak untuk dibaca oleh orang tua anak.

Selanjutnya guru dan orang tua bisa berhubungan melalui telepon untuk membicarakan kemajuan anaknya. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan membuat buku penghubung antara guru dan orang tua yang memungkinkan komunikasi dua arah antara guru dan orang tua. Untuk tingkat sekolah hubungan guru dan orang tua dapat dilakukan dengan membuat semacam bulletin yang di dalamnya berisi informasi perkembangan kelas dan siswa yang dapat diakses oleh orang tua.

Setelah memahami cara, bentuk dan pendekatan serta strategi kerjasama anatara guru dan orang tua siswa. Meraka berdua adalah dua unsur yang menjadi kontributor penting dalam meningkatkan kwalitas pendidikan anak. Sehingga berbagai macam bentuk yang dapat dilakukan guru dan orang tua untukm,enjalin sebuah kerjasama. Jika pendidikan ingin meningkat kwalitasnya, maka usaha kerjasama anatara guru dan orang tua siswa harus dilakukan secara berkesinambungan serta dilaksanakan dengan konsisten.

3.      Kompetensi yang harus dimiliki guru untuk bekerjasama dengan orang tua siswa

Menurut Rita mariyana dkk. dalam bukunya pengelolaan lingkungan belajar yang dikutip dari Eliason dan Jenkins, untuk mewujudkan kerjasama dengan orang tua dan guru dperlukan keterampilan yang harus dimiliki guru ketika proses kerjasama terjadi. Berikut ini kemampuan yang harus dimiliki guru dalam membangun kerjasama dengan orang tua agar lebih efektif yaitu:

a.       Mendengarkan dan saling berkomunkasi

b.      Perlakukan semua anak dan keluarganya dengan hormat dan penuh perhatian

c.       Pastikan mengtahui keadaan anak dengan cukup baik untuk menyampaikan informasi spesifik tentang anak kepada orang tua.

d.      Sampaikan kepada orang tua dengan perasaan hangat dan positif berkenaan dengan anak mereka

e.       Melihat secara objektif dan realistik tujuan bekerjasama dengan orang tua dan anak

f.        Menjadi sumber bantuan dalam bidang garapan orang tua, dan membantu menyampaikan apa yang telah dipelajari anak disekolah ke rumah

g.      Perlu diingat bahwa kerjasama dengan orang tua akan memerlukan pertemuan yang sering untuk membangun hubungan dukungan positif dengan orang tua.[15]

Selain beberpa kompetesi guru seperti yang telah diungkapkan diatas, ada strategi-strategi lain yang dapat dipertimbangkan untuk dilaksanakan agar kerjasama antara guru dan orang tua dapat berhasil. Menurut Grernberg (1989) yang dikutip oleh Soemiarti Patmonodewo, ada beberapa kiat untuk kebrhasilan kerjasama antara guru dengan orang tua siswa, yaitu;

a.       Tidak membedakan masing-masing orang tua dan selalu menghargainya.

b.      Mendengarakan dengan baik apa yang dikatakan orang tua dan memahami anatara orang tua dan guru tidak selalu memiliki pandangan yang sama. Dengarkan apa yang dikatakan orang tua tentang anak mereka, bagaimana badaya yang melatar belakangi kehidupan kelaurga mereka dan nilai-nilai kehidupan yang dianut.

c.       Apabila melakukan pertemuan dengan orang tua perhatikan waktunya, karena orang tua mengkin datang dari tempat yang jauh dan harus menyelesaikan tugas dirumah sebelum mereka meninggalkan rumah.

d.      Lakukan kunjungan rumah apabila orang tua menyetujuinya.

e.       Sarankan kepada orang tua untuk sering datang ke sekolah dan tidak perlu dengan perjanjian.

f.        Memberikan petunjuk bagi orang tua bagaimana membantu anak untuk belajar.

g.      Pertimbangkan orang tua yang memang tidak mampu secara finansial untuk datang ke sekolah anak mereka. Bantulah mereka dengan biaya atau menjemput para orang tua. Dengan demikian mereka juga mendapat kesempatan melihat putra-putrinya belajar di sekolah.[16]

 Di antara strategi yang dapat dilakukan adalah yang pertama guru secara rutin harus selalu membuat laporan perkembangan anak yang dikirimkan ke orang tua siswa. Untuk tingkat sekolah hubungan guru dan orang tua dapat dilakukan dengan membuat semacam bulletin yang di dalamnya berisi informasi perkembangan kelas dan siswa yang dapat diakses oleh orang tua. Jadi selain kompetensi guru juga harus mampu menciptakan berbagai strategi atau pendekatan untuk mengadakan kerjasama dengan orang tua siswa.

4.      Manfaat kerjasama antara guru dan orang tua siswa

Banyak nilai dan manfaat yang akan di peroleh dalam melakukan kerjasama guru dan orang tua dalam mendidika anak. Manfaat tersebut berupa nilai lebih baik bagi program, guru, anak dan orang tua. Diantaranya adalah

a.       Manfaat bagi program sekolah dan guru

Manfaat yang diperoleh dari kerjasama antara gruru dan orang tua bagi progaram dan sekolah adalah;

1)      Peran serta orang tua secara berkesinambungan menjadikan sekolahdapat menyelaaskan program sekolah dengan kebijakan pemerintah dalam mendidik anak.

2)      Bantuan orang tua membuat guru dapat memadukan aktifitas program yang semula tidak mungkin menjadi mungkin dengan adanya peran serta orang tua.

3)      Orang tua dapat dijadikan sumber daya dalam mengmebangkan program sekolah dengan bakat dan keahlian yang dimiliki masing-masing orang tua.

4)      Orang  tua lebih memiliki rasa empati khusus dalam menjelaskan program sekolah dan pelayanan terhadap orang tua lain.

5)      Ketika orang tua dapat menjelaskan kebiasaan anak kepada guru dengan akuarat, guru akan menjadi lebih empati kepada anak.

6)      Dalam pembagian tanggungjawab dengan guru sekolah dan di rumah orang tua dapat  diikut sertakan  dalam hal mangambil keputusan dan kebijaksanaan.

7)      Orang tua memiliki kesempatan untuk membandingkan  anaknya dengan anak yang seusianya yang lain dan memperoleh gambaran yang lebih realistik mengenai kekurangan dan kelebihan anak mereka.[17]

Selain manfaat tersebut diatas, dalam buku humanisai pendidikan yang ditulis oleh Darmiyati Zuchdi, menjelaskan sebuah manfaat kerjasama antara sekolah dan keluarga, dalam buku tersebut di sebutkan ’sebuah kerjasama anatara sekolah dan keluarga akan terhindar dari terjadinya kontradiksi atau ketidak sadaran antara nilai-nilai yang harus dipegang teguh oleh anak-anak disekolah dan yang harus mereka ikuti di masyarakat’.[18] Beberapa manfaat kerjasama antara guru dan orant tua ssisw untuk program sekolah dan guru. Akan tetapi, lebih bermanfaat lagi bagaimana guru menciptakan pola kerjasama atau kemitraan secara efektif dalam rangka manjalin kerjasama dengan orang tua siswa.

b.      Manfaat bagi anak

Adapun manfaat kerjasama antara guru dan orang tua bagi anak adalah sebagai berikut:

1)      Perhatian orang tua yang lebih berkwalitas dapat meningkatkan peluang untuk meningkatklan prestasi yang lebih baik pada anak. Orang tua yang berpean serta dalam meransang aktifitas intelektual anak, memberikan kebebasan, membaca, dan berdiskusi dengan anak akan memberi perbedaan perbedaan dalam berbahasa dan menyelesaikan masalah.

2)      Anak akan melihat bahwa kerjasama antara guru dan orang tua akan memberikan akibat yang positif dalam menjalin hubungan sosial.

3)      Kerjasama antara orang tua dan guru dapat membantu mengembangkan program pendidikan bagi anak yang lebih berkwalitas.[19]

Dapat dipahami apabila guru mengadakan kerjasama dengan orang tua dalam proses pembelajaran anak, maka bentuk kerjasama tersebut dapat membawa manfaat bagi anak itu sendiri. Salah satu manfaatnya adalah membantu mengembangkan program pendidikan bagi anak yang lebih berkwalitas

c.       Manfaat bagi orang tua

Selain memeberikan manfaan kepada anak, kerjasama antara guru dan orang tua juga membrrikan manfaat dan nilai lebih bagi orang tua itu sendiri, yaitu sebagai berikut:

1)      Partisipasi orang tua dalam program pendidikan anak akan meningkatkan perasaan orang tua untuk lebih mawas diri dalam memberikan pengruh terhadap pelayanan pendidikan.

2)      Membantu meningkatkan kepercayaan diri orang tua sebagai pendidik anaknya, sehingga anggota keluarga lebih terlibat satu sama lain dalam dalam sebuah totalitas keluarga yang harmonis.

3)      Orang tua dapat belajar betapa pentingnya pendidikan bagi anak dan bagaimana membantu sekolah  memaksimalkan tujuan pendidikan

4)      Orang tua menjadi pendukung dan penyokong program-program sekolah.[20]

Keterlibatan orang tua dalam program pendidikan selain bermanfaat bagi sekolah,  guru dan siswa. Bermanfaat pula bagi orang tua itu sendiri, termasuk meningkatkan kemampuan orang tua untuk berperan serta dalam proses belajar mengajar anak.

Partisipasi orang tua disekolah pada umunya guna meningkatkan prestasi dan kwalitas pendidikan anak disekolah. Apabila mempunyai program yang cukup baik dan orang tua berkenan membantu, umumnya prestasi dan kwalitas pendidikan menjadi maningkat.[21]

Begiatu juga, melalui kerjasama dengan guru dan orang tua, sangat banyak manfaat yang dapat dirasakan baik dari pihak sekolah guru dan orang tua siswa sendiri. Termasuk dalam hal untuk program pengembangan sekolah. Serta proses peningkatan kwalitas pendidikan.

5.      Permasalahan atau hambatan kerjasama antara guru dan orang tua siswa

Selain nilai dan manfaat yang dapat diperoleh dari kerjasama antara guru dan orang tua. Terdapat pula permasalahan yang mungkin terjadi, permasalahan yang timbul tersebut dapat berupa:

a.       Adanya perbedaan antara guru dan orang tua. Perbedaan dalam hal-hal nilai sosial, tujuan dan penerapan disiplin. Anak terkadang menjadi lebih bermasalah dalam hal disiplin

b.      Orang tua yang berasal dari sosial ekoonomi rendah akan merasa malu dan segan berada dilingkungan sekolah serta terlibat lansung dengan guru dan para staf sekolah. Sehingga hubungan kominikasi yang diciptakan akan labih sulit.

c.       Guru akan merasa terganggu dengan kehadiran orang tua khususnya orang tua yang jenjang pendidikannya lebih tinggi. Sehingga guru tekadang merasa merasa bahwa program pendidikan yang diberikan disekolah sudah diketahui anak sebelumnya.

d.      Perbedaan tempat tinggal orang tua akan memberikan pengruh terhadap aktifitas dan program sekolah.

e.       Terjadi ketegangan antara guru dan orang tua  dalam hal kebijakan sekolah. Sehingga sehingga masing-masing unsu harus mengetahui batas-batas kewenangan.[22]

Tentunya berbagai strategi atau pendekatan yang ditawarkan di atas sesunguhnya dapat dilaksanakan dengan syarat semua pihak dapat menerima berbagai hambatan yang akan dihadapi dalam kerjasama tersebut termasuk seperti yang telah diungkapkan diatas.

 

B.     Mutu Pendidikan Agama Islam

1.      Pengertian mutu Pendidikan Agama Islam

Definisi mutu dalam kamus besar bahasa Indonesia artinya ”baik buruk sesuatu, kwalitas, taraf atau derajat”.[23] Sedangkan pengertian mutu dalam konsep manajemen pendidikan menurut Saiful Sagala dalam buku manajemen strategik dalam meningkatkan mutu pendidikan, yang dimaksud dengan mutu adalah ”gambaran dan karakteristik menyeluruh jasa pelayanan pendidikan secara internal maupun eksternal yang menunjukkan kemampuan memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat mencakup input, proses dan output pendidikan”.[24]

Adapun pengertian mutu menurut Popi Sopiatin, yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mutu adalah ”segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan”.[25] Kemudian ada beberapa pandangan menurut Juran tentang mutu dalam dunia pendidikan, yaitu:

a.       Meraih mutu adalah proses yang tidak mengenal akhir

b.      Pernaikan mutu merupakan suatu konsep yang berkesinambungan

c.       Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah yang administratif

d.      Prasayrat mutu adalah petaihan seluruh warga sekolah.

Demikian pandangan mutu dalam konsep pendidikan menurut Juran, dari beberapa kriteria dan pengertian tentang mutu. Maka dapat disimpulkan mutu adalah segala sesuatu yang dapat diperbaiki untuk mencapai sebuah standar atau kwalitas yang mampu memenuhi kebutuhan secara optimal.

Sedangkan Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan cara melalui ajaran-ajaran Agama Islam, berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.

Pengertian tersebut senada dengan pendapat Muhaimin yang memaknai Pendidikan Agama Islam adalah “suatu aktivitas atau usaha-usaha tindakan dan bimbingan yang dilakukan secara sadar dan sengaja serta terencana yang mengarah pada terbentuknya kepribadian anak didik yang sesuai dengan norma-norma yang ditentukan oleh ajaran agama”.[26]

Sedangkan menurut Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam adalah “upaya sadar dan terencana dalam rangka menyiapkan anak didik untuk mengnal, memahami, menghayati hingga mengimani ajaran agama islam. Dibarengi dengan tuntutan untuk penganut agama dalam hubungannya dengan kerukunan umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa”[27].

Abdul Majid dan Dian Andayani juga mengutip pengertian Pendidikan Agama Islam, salah satunya adalah:

a.       Zakiyah Daradjat, Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengsuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran islam secara menyeluruh. Serta menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan ajaran islam sebagai pandangan hidup.

b.      Tayar Yusuf mengartikan Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia bertakwa kepada Allah SWT. [28]

Sedangkan A. Tafsir berpendapat pengertian Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.[29] Adapun pengertian lain menurut Abdul Rahman Shaleh dalam buku Pendidikn Agama dan Pembangunan Watak Bangsa. Pendidikan Agama Islam adalah: “Usaha sadar untuk meyiapkan siswa dalam menyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama islam melalui kegiatan bimbingan dan pengajaran, latihan dengan menggunakan tuntutan untuk menghormati agama orang lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam kehidupan masyarakat untuk persatuan nasional”.[30]  

Dari beberapa uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan ajaran-ajaran Agama Islam melalui proses penyentuhan batin, berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai yang perlu dihayati, diketahui, digali, dipahami, diyakini kemudian diamalkan anak didik sehingga menjadi milik dan jiwa kepribadian hidup sehari-hari  Upaya untuk itu adalah dengan cara mengajar atau menyampaikan ilmu Agama kepada anak didik melalui pembinaan pribadi, baik mental maupun materialnya.

Pendidikan Agama Islam juga merupakan bagian pendidikan yang amat penting yang berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai, antara lain akhlaq (mental spiritual). Agama Islam memberikan motivasi hehidupan serta merupakan alat pengembangan dan pengendalian diri bagi pemeluknya. Oleh karena itu agama perlu diketahui, dipahami, diyakini dan diamalkan manusia yang utuh sejahtera lahir bathin.

Memahami beberapa pengertian mengenai mutu dan Pendidikan Agama Islam dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud mutu Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk mencapai sebuah standar atau kwalitas yang mampu memenuhi kebutuhan secara optimal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendidikan ajaran-ajaran Agama Islam melalui proses yang berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai yang perlu dihayati, dan diterapkan dalam kepribadian hidup sehari-hari.

2.      Strategi meningkatkan mutu dan indikator mutu Pendidikan Agama Islam

Agar sekolah sekolah-sekolah mampu meningkatkan mutu yang bernuansa Islami, lebih dulu harus mamperhatikan mutu Pendidikan Agama Islam yang terdapat dalam sekolahan tersebut. Sehingga mampu bertahan dan mampu merespons kebutuhan masyarakat pada setiap perkembangan zaman. Maka sekolah tersebut harus memiliki strategi peningkatan kwalitas dan cara pengukuran yang efektif.

Strategi tersebut pada dasarnya bertumpu pada kemampuan memperbaiki dan merumuskan visi setiap zaman yang dituangkan dalam rumusan tujuan pendidikan yang jelas. Tujuan tersebut selamjutnya dituangkan dalam program pendidikan yang aplikabel, metode dan pendekatan yang partisipatif, guru  yang berkwalitas, lingkungan pendidikan yang konduktif serta sarana dan prasarana yang relevan kemudian pencapaian tujuan pendidikan.[31] Inti dari strategi tersebut bertolak dari pandangan terhadap pendidikan sebagai alat untuk membantu atau menolong masyarakan agar eksis secara fungsuonal ditengah-tengah masyarkat sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Untuk mengukur berhasil tidaknya strategi tersebut dapat dilihat melalui bebagai indikator sebagai berikut;

a.       Secara Akademis lulusan pendidikan tersebut dapat melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi.

b.      Secara moral lulusan tersebut dapat menunjukkan tanggung jawab dan kepeduliannya kepada masyarakat sekitar

c.       Secara individual lulusan makin meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah

d.      Secara sosial lulusan tersebut dapat berintraksi dan sosialisasi dengan masyarakat sekitarnya.

e.       Secara kultural ia mampu menginterprestasikan ajaran agamanya sesuai dengan lingkungan sosialnya.[32]

Dengan kata lain, semua hal diatas mancakup dimensi kognitif intelektual, afektif emosional, dan psikomotorik-praktis kultural dapat terbina secara seimbang. Apabila disimpulkan dari beberapa indikator tersebut mencakup output yang menekankan pada peningkatan kwalitas lulusan khususnya dalam Pendidikan Agama Islam, bertanggung jawab pada diri sendiri dan masyarakat serta beriman dan bertaqwa kepada Allah.

 

C.    Studi Model Kerjasama Antara Guru dan Orang Tua Siswa dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Agama Islam

Setelah memperhatikan beberapa penjelasan mengenai pengertian kerjasama antara guru dan orang tua siswa, cara dan bentuk-bentuk kerjasama antara guru dan orang tua siswa, manfaat kerjasama antara guru dan orang tua siswa, juga kompetensi yang harus dimiliki guru untuk menjalin kerjasama antara guru dan orang tua siswa serta permasalahan kerjasama antara guru dan orang tua siswa. Selanjutnya mengenai pengertian mutu Pendidikan Agama Islam dan styrategi peningkatan mutu, juga indikator mutu dalam Pendidikan Agama Islam. Maka selanjutnya akan dijelaskan mengenai studi model kerjasama antara guru dan orang tua siswa dalam meningkatkan mutu Pendidikan Agama Islam.

Terkadang peran orang tua jarang diperhitungkan dalam proses pendidikan, padahal peranan orang tua dalam mendidik mempunyai peranan yang tidak sedikit. Kemudian guru terkadang sering mengeluh tentang kesulitan yang dihadapi anak didiknya di sekolah tanpa tahu harus ke mana mengadukannya. Semua itu tidak akan terjadi kalau saja guru menjalin kerjasama dengan orang tua secara baik dan terorganisir.

Sehingga orang tua harus dipertimbangkan sebagai partner dan berpartisipasi seimbang dalam pendidikan anak-anaknya. Masalahnya bagaimana bentuk yang bisa dijalin antara guru dan orang tua untuk membantu pendidikan anaknya di sekolah. Telah disebutkan dan diidentifikasi ada beberapa bentuk dan pendekatan kerjasama yang dapat dijalin antara guru dan orang tua.

Upaya tersebut adalah menjalin komunikasi tertulis dengan buku penghubung, mengadakan pertemuan dengan orang tua secara berkala., mebuat program sekolah yang melibatkan orang tua, memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi (telepon, e-mail, dan internet), melakukan kunjungan rumah (home visit), serta observasi orang tua dikelas jika keadaan memungkinkan dan tidak menggangu proses pendidikan yang sedang berlansung.

 Selain itu, upaya pendekatan intensif juga dirasa perlu, upaya tersebut adalah guru dapat melatih orang tua apa yang sebenarnya mereka butuhkan untuk pendidikan anaknya dan orang tua sebagai orang yang terlibat dan bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya diminta berpartisipasi aktif untuk mendidik anaknya di sekolah. Kemudian kerjasama yang juga bisa dilakukan guru dengan bertukar pendapat dengan asas egaliter sehingga ada kejujuran antara guru dan orang tua dalam memberikan informasi yang berguna bagi pendidikan anak.

 Bentuk kerjasama seperti ini yang paling diperlukan adalah keterampilan berkomunikasi antara guru dan orang tua. Penyelenggaraan kerjasama antara guru dan orang tua dapat berhasil apabila dilaksanakan dengan teratur dan adanya keterbukaan dalam komunikasi. Terkadang orang tua hanya mendengar informasi ketika anaknya mempunyai perilaku buruk atau bermasalah di sekolah.

Selain bentuk kerjasama yang dapat dilakukan seperti telah diungkapkan di atas, ada strategi-strategi lain yang dapat dipertimbangkan untuk dilaksanakan agar kerjasama antara guru dan orang tua dapat selalu terjalin. Di antara strategi yang dapat dilakukan adalah yang pertama guru secara rutin harus selalu membuat laporan perkembangan anak yang dikirimkan ke rumah anak untuk dibaca oleh orang tua anak. Selanjutnya guru dan orang tua bisa berhubungan melalui telepon untuk membicarakan kemajuan anaknya. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan membuat buku penghubung antara guru dan orang tua yang memungkinkan komunikasi dua arah antara guru dan orang tua. Untuk tingkat sekolah hubungan guru dan orang tua dapat dilakukan dengan membuat semacam bulletin yang di dalamnya berisi informasi perkembangan kelas dan siswa yang dapat diakses oleh orang tua.

Untuk mendukung berbagai upaya kerjasama yang baik maka guru dan orang tua harus mengetahui apa yang bisa mereka lakukan untuk menumbuhkan motivasi belajar anak. Guru harus menempatkan usaha memotivasi siswa pada perencanaan pembelajarannya. Siswa sadar akan tujuan yang harus dicapai dan bersedia melibatkan diri. Hal ini sangat berperan karena siswa harus berusaha untuk memeras otaknya sendiri. Kalau kadar motivasinya rendah siswa akan cenderung membiarkan permasalahan yang diajukan. Maka peran guru dalam hal ini adalah menimbulkan motivasi siswa dan menyadarkan siswa akan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.

Kerjasama antara guru dengan orang tua perlu sekali dilakukan supaya tidak terjadi sinkronisasi antara pendidikan yang ada dalam keluarga dengan sekolah yang bisa mengganggu perkembangan psikologis dan pola pikir anak. Komunikasi yang terbangun antara keduanya semakin lancar yang menjadikan hubungan mereka pun semakin dekat. Sehingga, hal tersebut bisa membuat kepercayaan diri anak, keaktifannya bertanya dan mempraktikkan sehingga mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

Apalagi dalam Pendidikan Agama Islam yang menekankan nilai-nilai ajaran agama untuk kehidupan dalam keluarga ataupun masyarakat. Sehinngga Pendidikan Agama Islam dalam sekolah sangat penting untuk pembinaan dan penyempurnaan pertumbuhan kepribadian anak didik, karena pendidikan agama mempunyai dua aspek terpenting.

Aspek pertama dari pendidikan agama adalah yang ditujukan kepada jiwa atau pembentukan kepribadian. Anak didik diberikan kesadaran kepada adanya Tuhan lalu dibiasakan melakukan perintah-perintah Tuhan dan meninggalkan larangan Nya. Dalam hal ini  anak didik dibimbing agar terbiasa berbuat yang baik, yang sesuai dengan ajaran agama. Aspek kedua dari pendidikan agama adalah yang ditujukan kepada pikiran yaitu pengajaran agama itu sendiri. Kepercayaan kepada Tuhan tidak akan sempurna bila isi dari ajaran-ajaran Tuhan tidak diketahui betul-betul.

Oleh sebab itu guru Pendidikan Agama Islam sangat bertanggung jawab dalam pembinaan sikap mental dan kepribadian anak didiknya. Guru agama harus mampu menanam nilai-nilai agama kepada setiap siswa dengan berbagai cara. Akan tetapi tujuan itu tidak akan tercapai  apabila tidak ada kerjasama dengan semua pihak terutama dengan sesama guru dan dengan orang tua siswa. Sebab pendidikan agama dapat terbina apabila adanya kesinambungan atau keterpaduan antara pembinaan orang tua didalam keluarga, masyarakat dan guru di sekolah.

Selama ini hubungan yang terjadi antara guru dan orang tua masih terbatas pada hal-hal tertentu, orang tua ke sekolah atau menghubungi guru hanya karena ada masalah saja, begitupun sebaliknya guru menghubungi orang tua apabila ada masalah dengan anaknya. Orang tua ke sekolah hanya karena diundang oleh pihak sekolah pada acara-acara tertentu. Jarang dijumpai orang tua dan guru duduk bersama membahas upaya-upaya yang dapat dilakukan secara  bersama untuk menunjang motivasi belajar anak. Maka ketika anak mendapatkan masalah terkait dengan motivasi belajarnya maka akan terjadi aksi saling menyalahkan antara guru dan orang tua.

Untuk menghindari kondisi tersebut diatas, guru dan orang tua harus menciptakan hubungan positif dalam rangka menumbuhkan semangat belajar anak. Ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh guru dalam membuka pintu untuk membangun komunikasi langsung. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi maka guru bisa memanfaatkan sms, email, atau pesawat telepon untuk membuka komunikasi dengan orang tua, atau kalaupun media-media komunikasi di atas belum memungkinkan untuk digunakan maka cara-cara manual seperti mengirim surat atau kuisioner yang berisi informasi tentang perkembangan kognitif, psikomotorik dan afektif anak dapat dilakukan oleh guru. Guru dapat menyediakan waktu sekali sebulan untuk melakukan hal ini.

Sebaliknya orang tua juga perlu mengambil inisiatif dalam membuka jalur komunikasi dengan guru. Orang tua hendaknya bisa memberikan informasi-informasi yang berguna bagi guru tentang kondisi anak di rumah. Orang tua bisa melakukannya dengan menghubungi guru secara langsung di rumahnya melalui telepon di luar jam mengajarnya. Orang tua juga bisa membina hubungan dengan pihak sekolah dengan cara sedapat mungkin menghadiri undangan dari pihak sekolah, karena momen seperti rapat-rapat orang tua merupakan sarana yang efektif untuk menyampaikan pendapat, serta usul saran  bagi pihak sekolah. Sehingga diharapkajn dapat meningkatkan mutu atau kwalitas Pendidikan Agama Islam.

Memahami dan menganalisis penjelasan tersebut diatas, studi model kerjasama antara guru dan orang tua siswa dalam meningkatkan mutu Pendidikan Agama Islam adalah berbagai upaya bersama antara dua unsur yang bertanggungjawab (guru dan orang tua) dalam peningkatan kwalitas atau mutu Pendidikan Agama Islam sehingga mencapai taraf atau drajad pendidikan yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini mencakup berbagai bentuk kerjasama antara guru dan orang tua siswa, termasuk juga pendekatan-pendekatan dan strategi yang dirancang untuk diterapkan bersama guna meningkatkan mutu Pendidikan Agama Islam.



[1] W. J. S Purwadarminto, Kamus Umum  Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai pustaka,  1987), 492.

[3] Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah Dan Pengelolaan Kelas (Jakarta: Haji Masagung, 1989),123.

[4] Ibid. , 123.

[5] W. J. S Purwadarminto, Kamus Umum  Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai pustaka,  1987), 687.

[6] Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan (Jakarta: Reinika Cipta, 2008), 62.

[7] Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan (Jakarta: Reinika Cipta, 2008), 91.

[8] Rita Mariyana, Ali Nugraha, Yeni Rahmawati, Pengelolaan Lingkungan Belajar (Jakarta: Prenada Media, 2010), 157.

[9] Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah (Jakarta; Rienika Cipta, 2003), 130.

[10] Ibid. , 132.

[11] Ibid. , 133.

[12] Ibid. , 134

[13] Ibid. , 134.

[14] Dodi Imanudin, Kerjasama Guru Dan Orang Tua Di Sekolah, http://www.plbjabar.com/?inc=info_ plb_jabar&kat=artikel&id=64, di akses tanggal 31 Juli 2010.

[15] Rita Mariyana, Ali Nugraha, Yeni Rahmawati, Pengelolaan Lingkungan Belajar (Jakarta: Prenada Media, 2010), 153-154.

[16] Patmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah, 130.

[17] Ibid. , 154.

[18] Darmiyati Zuchdi, Humanisasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 133.

[19] Rita Mariyana, Ali Nugraha, Yeni Rahmawati, Pengelolaan Lingkungan Belajar (Jakarta: Prenada Media, 2010),  155.

[20] Ibid. , 155.

[21] Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah (Jakarta; Rienika Cipta, 2003), 124.

[22] Ibid. , 155-156.

[23] W. J. S Purwadarminto, Kamus Umum  Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai pustaka,  1987), 665.

[24] Saiful Sagala, Manajemen Strategik Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan (Bandung: ALFABETA, 2010.170.

[25] Popi Sopiatin, Manajemen Belajar Berbasis Kepuasan Siswa (Cilegon: Ghalia Indonesia, 2010),3

[26]Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), 5.

[27] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Islam Berbasis Kompetensi (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004), 130.

[28] Ibid. , 130.

[29] Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), 14.

[30] Syaichul Hadi Permono, Antalogi Kajian Islam ( Surabaya: Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Press, 2004), 248.

[31] Abidin Nata, Manajemen Pendidikan (Jakarta: Prenada Media, 2003), 172.

[32] Ibid. , 172.


No comments: