Selasa, 04 Desember 2012

TIPE KEPEMIMPINAN GETZELS DAN GUBA


TIPE KEPEMIMPINAN GETZELS DAN GUBA

Tema utama pada tengah abad terakhir dalam teori organisasi adalah interaksi antara struktur organisasi dan manusia, masih menjadi perdebatan apakah struktur organisasi sebagai penentu perilaku manusia dalam organisasi. Terutama sebagai seorang pemimpin, oleh karenanya dipandang penting untuk menguraikan tentang tipologi kepemimpinan dan gaya atau perilaku kepemimpinan.
Meskipun belum terdapat kesepakatan bulat diantara para pakar kepemimpinan mengenai tipologi kepemimpinan dan gaya atau perilaku kepemimpinan, namun ada baiknya untuk megadakan studi singkat terhadap beberapa tipe kepemimpinan dan gaya atau perilaku kepemimpinan yang secara luas dikenal dan diakui keberadaanya hingga dewasa ini.
Seprti pendapat dua tokoh yang dijelaskan dalam makalah ini, awalnya secara luas dikenal karena penelitian dengan Jakub Getzels tentang sistem sosial, konflik peran, dan teori administrasi. Dalam karya awalnya dengan Jacob Getzels, Perilaku Sosial dan Proses Administrasi, Guba mengusulkan pertimbangan nomotetis idiographic elemen dan elemen. Dengan kata lain, kebutuhan / harapan organisasi bukan satu-satunya pertimbangan, kebutuhan / harapan dari masing-masing juga harus dipertimbangkan.


PEMBAHASAN

Pemimpin ialah seorang individu dalam sesuatu kumpulan yang diberi tanggungjawab, mengarah dan menyelaraskan aktiviti–aktiviti untuk mencapai tujuan kumpulan itu. Ini bermakna kepimpinan ialah proses mempengaruhi kegiatan kumpulan kearah pencapaian sesuatu hasil yang telah dirancangkan.[1] Seorang pemimpin dalam menggerakkan organisainya tidak bisa dipisahkan dengan tipe dan gaya atau perilaku kepemimpinannya.
Meskipun belum terdapat kesepakatan bulat diantara para pakar kepemimpinan mengenai tipologi kepemimpinan dan gaya atau perilaku kepemimpinan, namun ada baiknya untuk megadakan studi singkat terhadap beberapa tipe kepemimpinan dan gaya atau perilaku kepemimpinan yang secara luas dikenal dan diakui keberadaanya hingga dewasa ini. Salah satunya adalah teori kepemimpinan menurut Getzels dan Guba.
Meskipun awalnya secara luas dikenal karena penelitian dengan Yakub Getzels tentang sistem sosial, konflik peran, dan teori administrasi, telah menikmati karier akademik yang panjang yang memiliki lebih dari empat dekade diperluas untuk mencakup penelitian dan publikasi mengenai tanggapan fisiologis untuk melihat televisi, naturalistik penyelidikan, penilaian kebutuhan, evaluasi pendidikan dan evaluasi kebijakan. Dan Dalam pensiun, Dr Guba menjadi direktur Ohio State University Evaluasi PusatNya teori-teori awal mengenai kebutuhan dari individu-individu yang terlihat dalam desakan dimasukkannya semua pemangku kepentingan dalam pengembangan Standar Evaluasi Pendidikan. (Pusat Evaluasi: Para Pendiri).
Dalam karya awalnya dengan Jacob Getzels, Perilaku Sosial dan Proses Administrasi, Guba mengusulkan pertimbangan nomotetis idiographic elemen dan elemen. Dengan kata lain, kebutuhan/harapan organisasi bukan satu-satunya pertimbangan, kebutuhan/harapan dari masing-masing juga harus dipertimbangkan. Dalam setiap sistem sosial, termasuk sekolah, di samping kebutuhan kelembagaan, peran, dan harapan-harapan, kebutuhan dan kepribadian dari individu harus dipertimbangkan. kebutuhan ganda ini dilihat sebagai faktor-faktor motivasi bagi perilaku sosial. Ketika kedua yang nomotetis (kelembagaan) dan idiographic (individu) dianggap sebagai elemen, sintetis hasil kepemimpinan. Melalui praktek kepemimpinan sintetis, hasil perbaikan kelembagaan.[2]
Menurut Getzeis dan Guba, tipe-tipe kepemimpinan dibagi atas:
1.      Nomothetic leadership, berkaitan dengan masalah harapan-harapan dan peranan-peranan yang menentukan dimensi normatif dan aktivitas dalam sistem sosial.
2.      Ideographic leadership, berhubungan dengan kebutuhan individu dan disposisi anggota yang menentukan dimensi personal dan aktivitas kelompok
3.      Synthetic leadership, mendamaikan tuntunan-tuntunan yang berbeda yang muncul dari adanya dua sistem yang bertentangan dan melawan didalam kelompok
Getzels dan Guba membentuk kategori gaya kepimpinan iaitu ‘nomotetik’, idiografik dan transaksional. Gaya nomotetik menekankan tentang keperluan ahli-ahli organisasi lebih daripada kepentingan individu. Sementara gaya kepimpinan idiografik adalah sebaliknya. Pemimpin yang menunjukkan gaya transaksional sadar akan keperluan organisasi dan individu dan Guba menyesuaikan kedua-duanya.[3]
Mengacu teori kepemimpinan dan paradigma Getzel & Guba, bahwa tugas pemimpin dihadapkan kepada dua dimensi yaitu dimensi tugas untuk mencapai tujuan dan dimensi hubungan dengan stafnya, hal ini termasuk dalam sistem sosial. Adapun ciri-ciri sistem sosial yang dikemukakan Ramayulis dikutip dari JW. Getzel and E.G. Guba. Menyatakan pada umumnya sistem sosial mempunyai ciri sebagai berikut :
1.      Terdiri dari unsur-unsur yang saling berkaitan (interpendent) antara satu sama lainnya
2.      Berorientasi pada tujuan (goal oriented) yang telah ditetapkan.
3.      Didalamnya terdapat peraturan-peraturan tatatertib berbagai kegiatan dan sebagainya.[4]
Variasi peran mengindikasikan bahwa peran konflik mempunyai keterkaitan dengan perkembangan pendidikan sejak dulu. Getzels (1963) mengindikasikan ada lima tipe sumber konflik yaitu:
1.      Konflik antara nilai-nilai budaya dan harapan institusi
2.      Konflik antara harapan peran dan disposisi personal
3.      Konflik antara peran dan didalam peran
4.      Konflik mengarahkan kekacauan personal atau pribadi
5.      Konflik didalam persepsi dan harapan yang diperankan
Selanjutnya Getzels mengatakan tidak hanya permintaan dan constraint (ketidak leluasaan) diantara guru untuk membentuk group jabatan, tetapi juga kontradiksi antara permintaan dan constraint. Sebenarnya asumsi masyarakat bahwa negaralah yang bertanggungjawab untuk mengarahkan penghargaan pada pendidikan, tetapi guru sering tidak diberi jaminan oleh pemerintah, akhirnya masyarakat menganggap bahwa guru sebagai warganegara kelas dua, sejak harapannya secara ketat tidak memberikan kemerdekaan perannya sebagai warganegara.
Selanjutnya administrator termasuk yang memberikan penghalang untuk pengembangan profesi. Guru diharapkan menjadi orang yang profesional dengan kompetensi khusus, tetapi disisi lain secara simultan mengharapkan hubungan yang baik kepada orang lain berkaitan dengan kompetensinya sendiri. Faktanya menurut Getzels dan Guba telah keluar dari jalur dan berbeda dengan keadaan sekarang seperti halnya pekerja kasar yang menunjukkan idiografik daripada monotetik behavior, dan inilah yang cenderung memicu konflik.
Nampaknya mudah mengatakan bahwa yang diuntungkan dalam program pendidikan guru akan membuat keseimbangan antara permintaan pendidikan profesional secara umum, dan spesialisasi profesional pendidikan. Tetapi kenyataannya ketiga elemen ini membuat konflik situasi didalam intern sendiri dengan adanya kesenjangan penekanan tujun. Tekanan perbedaan ini terlihat pada penekanan servis profesional untuk sekolah umum disatu sisi dan pelatihan guru disisi lain, dan ini meningkatkan konflik didalam pendidikan yang memberi dampak terhadap profesi pendidikan guru.
Bisakah budaya birokrasi dan budaya professional dikawinkan sehingga memunculkan bentuk kepatuhan yang sesuai dengan harapan, kalau meminjam istilah Getzel dan Guba dalam teori organisasi sebagai system social, ada dua sisi yang harus diperhatikan yaitu sisi nomotetis dan sisi idiographis sehingga bagaimana keduanya dapat memunculkan perilaku yang diharapkan. Dalam kasus kepatuhan birokrasi dan kepatuhan professional yang dikawinkan dan menghasilakn bentuk kepatuhan (budaya professional) yang diharapkan dapat digambarkan
Hubungan administrasi, yang ditulis pada tahun 1959 dengan Charles Bidwell mengeksplorasi hubungan dan persepsi kepala sekolah dan guru di nomotetis / idiographic konteks. Studi ini menggunakan survei dari para guru dan kepala sekolah untuk membandingkan pandangan dan persepsi para pelaku kepada pandangan dan persepsi para guru . Meskipun para pelaku jelas idiomatik entitas, gagasan bahwa mereka mungkin lebih merupakan bagian dari lembaga dan kurang dari seorang individu karena peran yang dimainkan dalam sistem ini terutama menarik ketika guru membandingkan hasil survei persepsi dari para pelaku ke diri para pelaku persepsi dalam nomotetis / idiographic konteks. Guba minat dalam evaluasi guru ini, yang melihat hubungan antara harapan utama, perilaku guru, guru kepuasan, kepercayaan diri, dan efisiensi (dalam konteks evaluasi). Kuncinya di sini adalah hubungan dan tentu saja kebutuhan individu.[5]




 


[1] Hariadi, Gaya dan Kepemimpinan, http://administrasipendidikan.org/artikel/view.id.diakses 25 Maret 2010.
[2] David Snyder David Snyder , Egon G. Guba Ph. D.http://www.wmich.edu/evalctr/founders.html, Diakses 01 April 2010. 3-4.
[5] David Snyder David Snyder , Egon G. Guba Ph. D. , http://www.wmich.edu/evalctr/founders.html, Diakses 01 April 2010. 3-4.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar