Selasa, 04 Desember 2012

METODOLOGI STUDI ISLAM



Perkuliahan Metode Studi Islam di Perguruan Tinggi Agama Islam


Metodologi Studi Islam merupakan mata kuliah  yang signifikan bagi pengembangan wawasan dan skill mahasiswa dalam konteks metodologis. Dalam mata kuliah  ini diberikan penekanan (stressing)  mengenai urgensi, potensi, dan peranan Islam sebagai suatu sistem kehidupan dan berbagai dimensi pendekatan dalam studi Islam serta aspek-aspek pemikiran Islam secara integral.
Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan dan wawasan mengenai urgensi studi Islam dan berbagai permasalahannya, kedudukan dan fungsi agama dalam kehidupan, dan pengkajian Islam dalam berbagai dimensi dan aspeknya secara optimal.
1.    Mahasiswa dapat mendeskripsikan urgensi studi Islam dan berbagai pendekatan dalam studi Islam secara multidimensional.
2.      Mahasiswa dapat memahami fungsi, unsur, dan tujuan agama dalam sistem kehidupan.
3.  Mahasiswa dapat menganalisis dan memberikan penjelasan tentang metode dan pendekatan dalam pengkajian Islam, potensi Islam dalam kehidupan dan dalam menjawab tantangan.
Mata Kuliah Metodologi Studi Islam (MSI) ini, mahasiswa akan diarahkan pada cara memahami Islam, baik Islam sebagai agama, budaya dan ilmu. Islam sebagai agama menjadi pandangan hidup, sedangkan sebagai budaya Islam jadi gejala sosial yang muncul sebagai jawaban kritis masyarakat. Selain itu, Islam sebagai ilmu sangat menarik untuk dikaji dengan berbagai pendekatan, metode dan kajian ilmiyah lainnya.
Hal ini tentu harus dipahami secara betul oleh para mahasiswa karena pendekatan dan metode yang digunakan dalam kajian Islam sangat beragam. Implikasi dari keragaman ini adalah adanya warna-warni dalam berislam yang dilakukan oleh pengikutnya. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap keragaman pendekatan dan metode perlu dipelajari dengan baik.
Sebagaimana  dikemukakan  di  atas,  bahwa  secara  umum  studi  Islam bertujuan  untuk  menggali  kembali  dasar-dasar  dan  pokok-pokok  ajaran  Islam sebagaimana  yang  ada  dalam  sumber  dasarnya.  Dengan  tujuan  tersebut,  maka studi  Islam  akan  menggunakan  cara  pendekatan  yang  sekiranya  relevan,  yang lebih bersifat multidisiplin.

Urgensi Penggunaan Metode Dalam Studi Islam

Mengkaji fenomena keagamaan berarti mempelajari perilaku manusia dalam kehidupan beragamanya. Fenomena keagamaan itu sendiri adalah perwujudan sikap dan perilaku manusia yang menyangkut hal-hal yang dipandang suci, keramat yang berasal dari hal-hal yang bersifat ghaib, dengan caranya masing-masing atau metode, teknik dan peralatannya dapat mengamati dengan cermat perilaku manusia itu, hingga menemukan segala unsur yang menjadi komponen terjadinya perilaku itu. Ilmu sejarah mengamati proses terjadinya perilaku itu. Kalau kita mencoba menggunakan metode dan pendekatan yang relevan, maka fenomena-fenomena keagamaan itu berakumulasi pada perilaku manusia dalam kaitannya dengan struktur-struktur kemasyarakatan dan kebudayaan yang dimiliki, dibagi dan ditunjang bersama.
Ilmu agama, diamati dengan metodologi ilmiah. Metodologi ini ditentukan oleh obyek yang dikaji, bukan sebaliknya. Sebagaimana  dikemukakan  di  atas,  bahwa  secara  umum  studi  Islam bertujuan  untuk  menggali  kembali  dasar-dasar  dan  pokok-pokok  ajaran  Islam sebagaimana  yang  ada  dalam  sumber  dasarnya.  Dengan  tujuan  tersebut,  maka studi  Islam  akan  menggunakan  cara  pendekatan  yang  sekiranya  relevan,  yang lebih bersifat multidisiplin. Dan sesuai dengan sifat studi Islam yang memadukan antara  studi  Islam  yang  bersifat  konvensional  dengan  studi  Islam  yang  bersifat ilmiah.  Adapun pendekatan dalam metode studi Islam adalah sebagai berikut:
1.      Pendekatan histories / kesejarahan.Meninjau  suatu  permasalahan  dari  tinjauan  sejarah,  dan  menjawab permasalahan serta menganalisisnya dengan menggunakan metode analisis sejarah.
2.      Pendekatan kefilsafatanYang dimaksud adalah melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan dan berusaha  untuk  menjawab  dan  memecahkan  permasalahan  itu  dengan menggunakan metode analisis filsafat.
3.      Pendekatan ilmiahYang  dimaksud  adalah  meninjau  dan  menganalisis  suatu  permasalahan atau objek studi dengan menggunakan metode ilmiah pada umumnya.
4.      Pendekatan  doktriner  atau  pendekatan  studi  islam  secara  konvensional merupakan  pendekatan  studi  di  kalangan  umat  islam  yang  berlangsung selama ini.
Begitu penting metode dan pendekatan-pendekatan yang relevan dalam studi islam kawasan dan wawasan keislaman.

Urgensi Penggunaan Pendekatan Sosiol Dalam Studi Islam

Dalam disiplin Sosiologi Agama, ada tiga perspektif utama sosiologi yang seringkali digunakan sebagai landasan dalam melihat fenomena keagamaan di masyarakat, yaitu: perspektif fungsionalis, konflik dan interaksionisme simbolik. Masing-masing perspektif memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri bahkan bisa jadi penggunaan perspektif yang berbeda dalam melihat suatu fenomena keagamaan akan menghasilkan suatu hasil yang saling bertentangan. Pembahasan berikut ini akan memaparkan bagaimana ketiga perspektif tersebut dalam melihat fenomena keagamaan yang terjadi di masyarakat:
1.      Perspektif Fungsionalis
Perspektif fungsionalis memandang masyarakat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerjasama secara terorganisasi yang bekerja dalam suatu cara yang agak teratur menurut seperangkat peraturan dan nilai yang dianut oleh sebagian besar masyarakat tersebut.
2.      Perspektif Konflik
Para penganut perspektif konflik berpandangan bahwa masyarakat berada dalam konflik yang terus-menerus diantara kelompok dan kelas, atau dengan kata lain konflik dan pertentangan dipandang sebagai determinan utama dalam pengorganisasian kehidupan sosial sehingga struktur dasar masyarakat sangat ditentukan oleh upaya-upaya yang dilakukan berbagai individu dan kelompok untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas yang akan memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.
3.      Perspektif Interaksionisme Simbolik
Dalam wacana sosiologi kontemporer, istilah interaksionisme simbolik diperkenalkan oleh Herbert Blumer melalui tiga proposisinya yang terkenal:
a.       Manusia berbuat terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi mereka;
b.      Makna-makna tersebut merupakan hasil dari interaksi sosial;
c.       Tindakan sosial diakibatkan oleh kesesuaian bersama dari tindakan-tindakan sosial individu.
Sedangkan dalam Sosiologi agama mempelajari aspek sosial agama. Objek penelitian agama dengan pendekatan sosiologi menurut keith A. Robert memfokuskan pada:
1.      Kelompok-kelompok dan lembaga keagamaan (meliputi pembentukannya, kegiatan demi kelangsungan hidupnya, pemeliharaannya, dan pembubarannya.)
2.      Perilaku individu dalam kelompok-kelompok tersebut (proses sosial yang mempengaruhi stasus keagamaan dan perilaku ritual.)
3.      Konflik antar kelompok.
Dengan memahami tersebut diatas, adapun urgensi penggunaan pendekatan dalam studi iaslam adalah:
1.      Dengan ilmu ini, suatu fenomena sosial dapat dianalisis dengan faktor-faktor yang mendorong terjadinya hubungan, mobilitas sosial serta keyakinan-keyakinan yang mendasari terjadinya proses tersebut (how n why it happens)
2.      Banyak fenomena kehidupan beragama baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat  bila menggunakan jasa ilmu sosiologi.
3.      Karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial (lihat pendapat Jalaludin Rahmat)
4.      Karena agama diturunkan untuk kepentingan social
Ilmu agama, pada segi yang manyangkut masalah sosial, diamati dengan metodologi ilmiah. Metodologi ini ditentukan oleh obyek yang dikaji, bukan sebaliknya. Kalau segi tertentu agama yang berada pada posisi fenomena sosial, maka metode pengkajiannya menggunakan ilmu-ilmu sosial.

Contoh Penerapan Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Pemahami Fenomena Keagamaan

Berangkat dari pemahaman dan penjelasan yang penulis dapatkan, dibawah ini akan dipaparkan contoh penerapan pendekatan ilmu sosial dalam pemahami fenomena keagamaan, adalah sebagai berikut:
1.      Menjelaskan pengaruh agama terhadap tingkah laku masyarakat [Atho Muzhar:2004,16].
a.       Ukuran kesalehan beragama di kampung dapat diukur dengan kedatangan pada sholat jum’at atau juga memakai peci
b.      Di kota, walaupun kita jarang kelihatan sholat jum’at seperti di kampung, kita tidak dianggap kurang saleh
c.       Sebab, indikasi kesalehan telah bergeser dan berbeda bagi orang desa dan orang kota
2.      Perkembangan masyarakat industri mempengaruhi pemikiran keagamaan
a.       [wacana] Di Jawa Timur, Banten, dan kota industri lain terdapat mslh bila pabrik beroperasi 24 jam (bila tdk, akan menimbulkan kerugian), sementara solat jum’at konvensional hanya ada satu sesi.
b.      Bgm kalau solat jum’at bergiliran? Bukankah pelaksanaan solat jum’at di setiap masjid tidak serentak, ada perbedaan menit/menit?
c.       Bukankah waktu zuhur itu dari jam 12.00-15.00?
Pendekatan Sosiologi memiliki peranan yang sangat penting dalam usaha untuk memahami dan menggali makna-makna yang sesungguhnya dikehendaki oleh al-Qur’an. Selain disebabkan oleh Islam sebagai agama yang lebih mengutamakan hal-hal yang berbau sosial daripada individual yang terbukti dengan banyaknya ayat al-Qur’an dan Hadits yang berkenaan dengan urusan muamalah (sosial), hal ini juga disebabkan banyak kisah dalam al-Qur’an yang kurang bisa dipahami dengan tepat kecuali dengan pendekatan sosiologi. Sebagai contoh, kisah Nabi Yusuf yang dulunya budak lalu akhirnya menjadi penguasa di Mesir dan kisah nabi Musa yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Nabi Harun. Kedua kisah itu baru dapat dimengerti dengan tepat dan dapat ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu sosial.

1 komentar:

  1. tolong postkan topik ISLAM DALAM BERBAGAI ASPEKNYA donk ..
    perlu banget materinya ,, terimakasih ..

    BalasHapus