BUKU SEKS MANIA

Loading...

BUKU SEKS MANIA

Loading...

Selasa, 04 Desember 2012

PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH


PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL DALAM
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH
Oleh: Ariffudin

PENDAHULUAN
Pendidikan Agama Islam di sekolah atau di madrasah, dalam pelaksanaannya masih menunjukkan berbagai permasalahan. Seperti halnya proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah saat ini masih sebatas sebagai proses penyamPendidikan Agama Islaman “pengetahuan tentang Agama Islam.” Mayoritas metode pembelajaran agama Islam yang selama ini lebih ditekankan pada hafalan, akibatnya siswa kurang memahami kegunaan dan manfaat dari apa yang telah dipelajari dalam materi Pendidikan Agama Islam yang menyebabkan tidak adanya motivasi siswa untuk belajar materi Pendidikan Agama Islam.
Melihat kenyataan yang ada di lapangan, sebagian besar teknik dan suasana pengajaran di sekolah-sekolah yang digunakan para guru kita cenderung monoton dan membosankan. Sehingga menurunkan motivasi belajar siswa. Kondisi ini pada gilirannya berdampak pada prestasi belajar.  Untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut perlu diterapkan suatu cara alternatif mempelajari Pendidikan Agama Islam yang kondusif dengan suasana yang cenderung rekreatif sehingga memotivasi siswa untuk mengembangkan potensi kreativitasnya. Salah satu alternatif yang bisa digunakan adalah dengan penerapan pembelajaran kontekstual Dari pembahasan tulisan ini, penulis memberikan beberapa penjelasan sebagai bahan pertimbangan bagi beberapa pihak, antara lain bagi guru, pembelajaran kontekstual ketika diterapkan pada bidang studi Pendidikan Agama Islam

ABSTRAKSI
Proses pembelajaran kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung dengan kondisi terdekat peserta didik. Orientasi proses belajar ini, tidak hanya bertujuan siswa menerima pelajaran, akan tetapi lebih menitikberatkan pada proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. Dengan mengadakan pendekatan lansung dengan ligkungan sekitar dan fenomena atau peristiwa alam, dengan cara mengkontruksi pengetahuan sebelumnya dengan pengetahuan yang  baru.



PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH
Pendekatan Kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menhadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk meggapinya.
Pembelajaran kontekstual pada adasarnya bersumber pada pendekatan kontriktivisme, yang bermakna proses mengkontruksi pengetahuan baru secara bermakna melalui pengalaman nyata, melalui proses penemuan dan mntransformasi informasi kedalam situasi lain secara kontekstual.[1] Sedangkan pendekatan kontekstual sendiri berarti suatu proses pembelajaran holistik yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial, ekonomi maupun kultural.[2] Sehingga peserta didik dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan serta bentuk pemahaman yang dapat diaplikasikan kemudian ditransfer dari konteks permasalahan yang satu dengan permasalahan yang lainya.
Adapun komponen pembelajaran kontektual yang lainya yaitu; Inquiry (Menemukan), Questioning (Bertanya), Learning Comunity (Masyarakat Belajar), Modeling (Pemodelan), Reflection (Refleksi), Autentic Assesment (Penilaian yang sebenarnya).[3] Dengan semua komponen tersebut, pembelajran kontekstual dapat mencaPendidikan Agama Islam tujuan pembelajaran
Demikian pembelajaran Pendidikan Agama Islam berdasarkan pendekatan kontekstual mengasumsikan bahwa laboratorium Pendidikan Agama Islam adalah kehidupan itu sendiri atau peristiwa hidup dan kehidupan yang berada dalam alam semesta ini. Termasuk dalam arena keluarga, sosioal, politik, ekonami, budaya, IPTEK dan lingkungan sekitar.[4] Karena pada dasarnya Pendidikan Agama Islam merupakan upaya normatif untuk membantu seseorang atau peserta didik dalam mengembangkan pandangan hidup islami (bagaimana akan menalani hidup dan memanfaatkan hidup dan kehidupan sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai islam, sikap hidup islami yang memanifestasikan dalam keterampilan hidup sehari-hari.
Pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah terdiri atas beberapa aspek dan pada dasarnya dari beberapa aspek tersebur saling berkaitan dan melengkapi. Akan tetapi dari setiap aspek tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda. Aspek-aspek Pendidikan Agama Islam tersebut perlu dikembangkan dengan pendekatan kontekstual dengan pemikiran sebagai berikut:
1.      Aspek Keimanan/Aqidah
Masalah keimanan banyak menyentuk aspek metafisika yang bersifat abstrak atau bahkan hal-hal yang bersifat suprarasional. Diantara cara untuk mengatasi kesulitan pembelajaran masalah Aqidah tersebut adalah dengan jalan mengemangkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Melalui pendekatan ini, peserta didik diajak untuk mengamati fenomena-fenomena alam sekitar dan juga fenomena sosial, psokologi dan budaya. Serta seseorang yang mempunyai loyalitas dan dedikasi tinggi terhadap ajaran islam. Dari sini, akan terjadi proses internalisasi nilai-nilai agama dan menumbuhkan motivasi seseoarang dalam menjalankan dan menataati nilai-nilai agama.
2.      Aspek Al-Qur’an dan Hadist
Dalam pembelajaran Al-Qur’an dan Hadist ada beberapa makna yang bersifat tidsk pasti (relatif). Karena masih terbuka kemungkinan makna lain, sehingga membuka peluang untuk pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan pendekatan kontektual. Misalnya kandungan ayat Al-qur’an dan Hadist yang bisa diaitkan dengan keghidupan sehari-hari.
3.      Aspek Fiqh
Penerapan pembelajaran fiqh lebih bersifat kontekstual, karena perkembangannya lebih dipengaruhi dengan situasi dan kondisi, sejalan dengan tuntutan zaman dan kemaslahatan. Tentunya hal ini tidak lepas dari kehidupan nyata dan kehidupan masyarakan saat ini.
4.      Aspek Akhlaq
Kesadaran melakukan sesuatu adalah kesadaran dimana manusia  akan mendapatkan akibatnya baik ataupun buruk. Agar kesadaran tersebut dapat dimiliki oleh peserta didik, maka  perlu dikembangkan pembelajaran akhlaq bebasis kontekstual. Terapanya dengan teknik peneladanan, pembiasaan dan pemotivasian.


5.      Aspek Sejarah Islam
Sejarah dalam filosofinya adalah tinjauan terhadap peristiwa-peristiwa historis secara filosofi untuk mengendalikan perjalanan histori tersebut untuk menetapkan sesuatu dari generasi ke generasi. Dapat ditegaskan pelajaran sejarah akan kering jika guru hanya menceritakan sejarah atau peristiwa-peristiwanya, sebaliknya pelaajran sejarah akan menarik jika guru bukan hanya menekankan pada peristiwa secara tekstual, tetapi perlu dikaitkan dengan konteksnya yang bisa ditarik pelajaran-pelajaran yang berharga bagi pembinaan peserta didik.
Disamping itu, secara umum kelebihan pendekatan atau pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
Sedangkan kelemahanya guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Akan tetapi, peran guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.[5] Dan salain itu, pembelajaran kontekstual membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama.[6] Sehingga terkadang guru sukar untuk mengimpelementasikan.
Keberhasilan penerapan pembelajaran kontekstual perlu melibatkan berbagai pihak. Dalam hal ini, supaya pihak sekolah dan masyarakat memiliki kesadaran akan pentingnya beberapa hal, yaitu:sumber belajar tidak hanya berasal dari buku dan guru, melainkan juga dari lingkungan sekitar baik di rumah maupun di masyarakat; strategi pembelajaran kontekstual memiliki banyak variasi sehingga memungkinkan guru untuk mengembangkan model pembelajaran yang berbeda dengan variasi yang lain; pihak sekolah dan masyarakat perlu memberikan dukungan baik materiil maupun non-materiil untuk menunjang keberhasilan proses belajar siswa.


KESIMPULAN
Salah satu metode yang saat ini dianggap tepat dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah melalui pendekatan kontekstual. Pembelajaran secara kontekstual berhubungan dengan (1) fenomena kehidupan sosial masyarakat, bahasa, lingkungan hidup, harapan dan cita yang tumbuh, (2) fenomena dunia pengalaman dan pengetahuan murid, dan (3) kelas sebagai fenomena sosial. Kontekstualitas merupakan fenomena yang bersifat alamiah, tumbuh dan terus berkembang, serta beragam karena berkaitan dengan fenomena kehidupan sosial masyarakat. Karena karakter kontekstual sesuai dengan sifat pelajaran Pendidikan Agama Islam yang orientasi materinya berkaitan dengan masalah kehidupan, sosial, ekonomi, politok, budaya, dan IPTEK.

DAFTAR PUSTAKA

Hnafiah, Cucu Sahana.  Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama, 2009
Made, Wena. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual Operasional, Cet I,  Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Muhaimin. Rekonstruksi Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009.



[1] Hnafiah, Cucu Sahana, Konsep Strategi Pembelajaran (Bandung: Refika Aditama, 2009), 67.
[2] Ibid. , 73.
[3] Ibid. , 73-75.
[4] Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), 263.
[5] Wena, Made, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual Operasional, Cet I,  (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 76.
[6] Ibid. , 77.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar