Monday, June 15, 2020

CIPTAKAN BUDAYA INDUSTRI SMK DENGAN PKL

CIPTAKAN BUDAYA INDUSTRI SMK DENGAN PKL

Pengembangan karakter kerja siswa di SMK Krian 1 merupakan harus diperhatikan dan dilaksanakan guna mempersiapkan lulusannya menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Karena penanaman pengembangan karakter kerja siswa sesuai dengan kebutuhan dunia kerja sangatlah dibutuhkan. Hal ini sesuai dengan esensi dari tujuan pendidikan kejuruan tingkat menengah (SMK) adalah mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu (Depdikbud, 2004: 1). SMK memegang peranan penting dalam penyediaan tenaga kerja, karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga kerja terdidik dan terlatih. Namun tenaga kerja yang dihasilkan sampai saat ini masih belum mampu menjawab permasalahan kebutuhan tenaga kerja yang memenuhi kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja. Peluang kerja yang ditawarkan pasar kerja masih banyak yang belum terisi, karena lulusan pendidikan yang ada tidak terserap pasar kerja (Dedi S, 2002: 612).

Pengembangan karakter kerja bagi siswa SMK merupakan aspek penting dalam menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dan berhasil dalam pekerjaannya. Oleh karena itu siswa SMK Krian 1 harus dipersiapkan untuk menghadapi real job yang ada di dunia usaha dan industri. Bekerja di industri berada dalam lingkungan yang berbeda dengan lingkungan sekolah. Pengembangan karakter kerja untuk jangka panjang meliputi pembinaan ketahanan mental, disiplin kerja, ketahanan fisik, dan perilaku positif siswa. Sedangkan jangka pendek meliputi; pengembangan wawasan kerja di industri.

 

PENGEMBANGAN KARAKTER KERJA BERBASIS INDUSTRI

Karakter sering diberi padanan kata watak, tabiat, perangai atau akhlak. Dalam bahasa Inggris character diberi arti a distinctive differentiating mark, tanda yang membedakan secara tersendiri. Karakter merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri seseorang yang dibentuk melalui proses; pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan dan pengaruh lingkungan, menjadi nilai intrinsik yang melandasi sikap dan perilaku seseorang (Koesoema, 2007). Menurut (Ferry,. et.al, 2002), karakter tidak turun temurun, juga tidak berkembang secara otomatis, harus secara sadar dikembangkan. 

Dengan demikian karakter adalah suatu kualitas yang mantap dan khusus (pembeda) yang terbentuk dalam kehidupan individu yang menentukan sikap dalam mengadakan reaksi terhadap rangsangan dengan tanpa mempedulikan situasi dan kondisi. Namun untuk mengembangkan karakter, diperlukan ’character coach’ atau ’character mentoring’ yang mengarahkan dan memberitahukan kekeliruan dan kelemahan-kelemahan karakter seseorang (Koesoema, 2007).

Pengembangan karakter kerja pada pendidikan kejuruan, menuntut pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja agar hasilnya efektif. Sebagaimana teori Proser & Allen (1988), bahwa pendidikan kejuruan yang berhasil diantaranya: (a) efisien jika lingkungan dimana siswa dilatih dengan cara, alat, dan mesin yang sama seperti yang diperlukan dalam pekerjaan itu; (b) efektif jika melatih kebiasaan berpikir dan bekerja seperti di DU-DI; (c) efektif jika membentuk kebiasaan kerja dan kebiasaan berfikir yang benar sehingga cocok dengan pekerjaan; dan (d) pendidikan kejuruan harus memperhatikan permintaan pasar.

Model pengembangan karakter kerja berbasis industri yang menerapkan untuk membangun rasa percaya diri, siswa bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan sampai tuntas; berdisiplin dengan waktu, memiliki daya juang yang tinggi; dan memiliki ketahanan mental kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Hal ini didasarkan pada premis bahwa setiap siswa memiliki peluang untuk bekerja di industri. Integrasi pengembangan karakter kerja dalam pembelajaran praktik melalui 5 tahap kegiatan, yaitu:

a. Tahap komitmen kerja ditunjukkan oleh indikator; kesediaan menerima aturan kerja, kesepakatan target waktu, kesadaran melaksanakan tugas sesuai aturan (SOP), kesediaan bekerjasama, dan kesediaan melakukan sikap kerja sesuai dengan yang diharapkan.

b. Tahap membangun etos kerja melalui simulasi situasi bekerja di industri agar siswa mengalami bermacam-macam proses kerja untuk menguji reaksi mereka. Tujuanya adalah untuk membangun etos kerja yang ditunjukkan oleh indikator bekerja ikhlas, tuntas, semangat, serius, optimis, dan unggul.

c. Tahap pemaknaan cara kerja yaitu menerima dan memaknai nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu yang bertujuan untuk membangun apresiasi kerja. Apresiasi kerja ditunjukkan oleh indikator; memahami, menghayati, menyenangi, dan menghargai bidang pekerjaan.

d. Pembiasaan merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus, sehingga menjadi suatu rutinitas atau perilaku yang membudaya dan menjadi karakter yang baik dalam perilaku kerja. Budaya kerja, ditunjukkan oleh indikator sikap kerja 5R, berorientasi pada kualitas, budaya just in-time, budaya bekerja jujur, dan bekerjasama.

e. Refleksi merupakan tahap yang menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup yang memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah diperoleh dan dilakukan serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri.

 


No comments: